Tampilkan postingan dengan label Khalid bin Walid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalid bin Walid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (36) Pertempuran Yamamah (Bagian 4)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
(Halaman 10)

Pada malam harinya, Pasukan Muslim beristirahat di tempat mereka berdiri, tertidur pulas dalam kemenangan setelah menyelesaikan mimpi buruk pertempuran.

Keesokan paginya, Khalid berjalan di medan pertempuran. Di setiap tempat, ia melihat sisa-sisa pertempuran. Tubuh-tubuh yang rusak, terbaring dalam postur yang tidak enak dilihat, memenuhi wadi dan dataran Aqraba` serta Kebun Kematian. Di sejumlah lokasi, ia harus melangkahi tanah-tanah yang basah dengan darah.

Semua pimpinan murtad di Yamamah telah terbunuh, kecuali Muja’ah yang sekarang dalam ikatan, dibawa ke samping pemenang. Khalid membawanya agar ia bisa mengenali sejumlah pimpinan yang tewas dan agar ia juga bisa merasakan dampak kekalahan Bani Hanifah.

Kondisi Pasukan Muslim juga tidak terlalu segar. Pertempuran ini telah memaksa mereka membayar mahal dan saat ini, kondisi mereka bahkan tidak memungkinkan untuk mempertahankan diri mereka sendiri, apalagi untuk menghadapi pertempuran lainnya. Karena kelelahan, mereka masih berbaring di lokasi tempat mereka tidur semalam, mengistirahatkan kaki-kaki mereka. Tetapi Khalid pantas untuk merasa puas dengan hasil pertempuran ini: Musaylimah tewas dan pasukannya terpecah kecil-kecil. Secercah kebahagiaan menghangatkan hati Khalid. Namun Muja’ah dengan segera menghalau perasaan ini.

“Benar, engkau telah meraih kemenangan,” ia mengakui. “Tetapi, engkau sebaiknya paham bahwa engkau baru memerangi satu bagian kecil dari Bani Hanifah, yaitu mereka yang dikumpulkan oleh Musaylimah dalam waktu singkat. Sebagian besar pasukan masih berada di benteng di Yamamah.”

Khalid memandangnya dengan ragu, “Semoga Allah melaknatmu! Apa benar yang kau katakan?”

“Benar,” Muja’ah melanjutkan. “Aku sarankan agar engkau menerima penyerahan diri mereka. Jika engkau hendak menyampaikan syarat-syarat dari kalian, aku akan masuk ke dalam benteng dan mencoba membujuk para prajurit untuk meletakkan senjata mereka.”

Tidak perlu waktu lama bagi Khalid untuk menyadari bahwa pasukannya yang lelah tidak mungkin untuk bertempur lagi dalam waktu dekat, apalagi sebuah pasukan yang lebih besar menunggu mereka. “Baiklah,” jawabnya menerima pengajuan dari Muja’ah. “Aku mengizinkan upaya perdamaian.”

Pasal-pasal penyerahan diri dinegosiasikan oleh kedua pimpinan ini. Pasukan Muslim akan menyita emas, pedang, baju baja, dan kuda di Yamamah, tetapi hanya setengah dari populasinya akan ditawan sebagai budak. Muja’ah dibebaskan dari belenggunya. Setelah berjanji bahwa ia akan kembali, ia diizinkan untuk berangkat masuk ke dalam benteng. Setelah beberapa saat, ia kembali sambil menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Mereka tidak setuju. Mereka semua bersiap untuk bertempur. Bahkan mereka melawanku. Kalian bisa menyerang jika kalian mau.”

Khalid memutuskan untuk melihat kota tersebut secara langsung. Ia meninggalkan sebagian besar pasukannya yang sedang menguburkan para syuhada dan mengumpulkan harta rampasan perang. Ia berangkat dengan detasemen berkuda menuju Yamamah, ditemani oleh Muja’ah. Ketika ia tiba di dekat dinding utara kota, ia berhenti tercengang melihat dinding itu dipenuhi oleh prajurit yang baju baja dan senjatanya berkilauan memantulkan cahaya matahari. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatasi pasukan yang masih segar ini di dalam sebuah benteng yang kokoh? Pasukannya sedang dalam kondisi tidak siap tempur, mereka hanya bisa beristirahat.

Suara Muja’ah memecah kesunyian. “Mereka mungkin bersiap untuk menyerah jika engkau tidak menawan satu pun dari mereka sebagai budak. Engkau bisa mengambil semua emas, pedang, baju baja, dan kuda.”

“Apakah mereka telah setuju dengan hal ini?” tanya Khalid.

“Aku telah mendiskusikan masalah ini dengan mereka, tetapi mereka belum memberi keputusan.”

Khalid tidak maju lebih jauh. Ia memandang Muja’ah dengan tegas. “Aku memberi engkau tiga hari,” katanya. “Jika gerbang tidak dibuka dengan pasal-pasal perjanjian baru ini, aku akan menyerang. Dan tidak akan ada pasal perdamaian lagi.”

Muja’ah kembali masuk ke dalam benteng. Kali ini, ia kembali dengan wajah tersenyum. “Mereka telah sepakat,”[1] umumnya.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 515-517; Baladzuri: hlm. 99-100.
____________________________________________________________________________
(Halaman 11)

Perjanjian tersebut disepakati, ditandatangani oleh Khalid mewakili Muslim dan Muja’ah bin Murarah mewakili Bani Hanifah.[1]

Setelah perjanjian ditandatangani, Muja’ah kembali ke dalam benteng dan dengan segera, gerbang benteng dibuka. Khalid yang ditemani pasukan berkudanya serta Muja’ah, memasuki kota, berpikir akan melihat prajurit-prajurit bersenjata. Tetapi ke arah mana saja mereka ia melihat, hanya ada perempuan, orang tua, dan anak-anak. Ia menoleh kebingungan ke arah Muja’ah, “Di mana para prajurit yang aku lihat tadi?”

Muja’ah menunjuk ke arah para perempuan. “Merekalah prajurit yang engkau lihat,” ia menjelaskan. “Ketika aku masuk ke benteng sebelum ini, aku menyuruh para perempuan untuk memakai baju baja, memegang senjata, dan bersiap di posisi tempur. Prajurit yang sebenarnya tidak pernah ada!”

Marah karena merasa ditipu, Khalid menghardik Muja’ah, “Kau menipuku, Muja’ah!”

Muja’ah hanya mengangkat bahunya. “Mereka adalah rakyatku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mereka.”

Jika saja tidak ada perjanjian, Khalid tentu akan menghukum Muja’ah dengan tangannya sendiri. Namun, perjanjian sudah ditandatangani dan pasal-pasalnya harus dipatuhi. Bani Hanifah yang berada di dalam kota itu selamat. Mereka akan dengan segera kembali pada kehidupan keseharian mereka dalam keadaan bebas.

Satu atau dua hari kemudian, sebuah pesan datang dari Khalifah yang belum mengetahui akhir dari Pertempuran Yamamah. Pesannya adalah untuk membunuh semua murtad dari Bani Hanifah. Khalid membalas pesan ini dengan surat bahwa perintah Khalifah tidak bisa dilaksanakan karena perjanjian telah ditandatangani. Abu Bakr akhirnya sepakat dengan perjanjian ini.

Namun, perjanjian ini hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di benteng. Sisa dari keseluruhan Bani Hanifah, yaitu puluhan ribu orang yang tinggal di sekitar Yamamah, tidak termasuk dalam perjanjian. Elemen Bani Hanifah paling penting sekarang adalah sisa-sisa pasukan Musaylimah yang telah melarikan diri dari dataran Aqraba`. Prajurit-prajurit ini berjumlah lebih dari 20.000 orang dan telah menyebar di berbagai klan dan kelompok-kelompok. Setelah kematian Musaylimah, mereka tidak membahayakan Islam, tetapi mereka tetap berpotensi untuk berbuat kejahatan. Mereka harus ditumpas. Di bawah hukum perang yang keras, mereka tidak mempunyai hak untuk tidak diserang sampai mereka dengan jelas menyerahkan diri.

Khalid memutuskan untuk melenyapkan semua perlawanan dari Bani Hanifah dengan harapan kedamaian yang sempurna bisa menyelimuti wilayah tersebut. Ia mengizinkan pasukannya untuk istirahat beberapa hari, kemudian ia membaginya dalam beberapa kelompok untuk dikirim menaklukkan daerah-daerah di sekitar Yamamah dan membunuh atau menawan mereka yang melawan. Kelompok-kelompok pasukan ini menyebar ke seluruh penjuru provinsi.

Para pelarian ini dicari ke seluruh tempat perlindungan. Ribuan orang dari mereka tetap tidak bertobat dan melawan, mereka diserbu dan dibinasakan; perempuan dan anak-anak mereka ditawan. Namun ribuan lainnya menyerah dan diampuni. Mereka semuanya kembali masuk Islam.

Khalid mendirikan markasnya di dekat Yamamah. Dari sana, ia menetap sekitar dua bulan sebelum menerima perintah lanjutan dari Khalifah.

Dengan kesuksesan dalam Pertempuran Yamamah, hampir seluruh Arabia dibebaskan dari kejahatan kemurtadan. Kantong-kantong kecil kelompok murtad masih tersisa di pinggiran jazirah, tetapi mereka tidak memberikan ancaman yang serius. Sejumlah pertempuran berlangsung, tetapi skalanya tidak sebesar Yamamah dan sejumlah pertempuran yang diceritakan dalam bab-bab sebelumnya.

Catatan Kaki Halaman 11
[1] Ada sejumlah perbedaan pendapat di antara sejarawan-sejarawan awal. Tentang rincian pasal-pasal perjanjian, tetapi rincian-rincian ini tidak terlalu penting.
____________________________________________________________________________
(Halaman 12)

Sampai saat itu, Pertempuran Yamamah adalah pertempuran yang paling sengit dan paling banyak memakan korban di dalam sejarah Islam. Pasukan Muslim belum pernah menghadapi ujian dalam hal kekuatan seperti halnya dalam Pertempuran Yamamah dan mereka berhasil melewatinya dengan kemenangan di bawah kepemimpinan Pedang Allah. Dengan menghancurkan pasukan Bani Hanifah yang jauh lebih besar di bawah kepemimpinan Musaylimah yang juga merupakan jenderal berbakat, Pasukan Muslim membuktikan bahwa diri mereka pasukan yang kuat. Setengah abad kemudian, para orang tua akan menceritakan pertempuran ini secara rinci kepada para cucunya, kemudian mengakhirinya dengan kata-kata penuh kebanggaan, “Aku dulu mengikuti Pertempuran Yamamah!”

Jumlah korban cukup menggemparkan. Dari pihak murtad, 21.000 prajurit tewas: 7.000 tewas di dataran Aqraba`, 7.000 tewas di Kebun Kematian, dan 7.000 tewas dalam operasi pembersihan.

Pasukan Muslim mendapatkan korban gugur yang jauh lebih sedikit daripada pasukan murtad, tetapi jika dibandingkan dengan korban-korban dalam pertempuran mereka di masa lalu, jumlahnya tetap jauh lebih besar. Seribu dua ratus Muslim gugur sebagai syahid, kebanyakan di wadi atau di dekatnya.[1] Setengah dari mereka adalah Anshar dan Muhajirin, sahabat-sahabat nabi yang paling dekat dan yang paling dihormati. Dikabarkan juga bahwa dari mereka yang syahid, 300 orang adalah mereka para penghapal Al-Qur`an. Sejumlah Muslim terbaik juga gugur dalam pertempuran ini: Abu Dujanah, Abu Hudzayfah (komandan sayap kiri), Zayd (saudara ‘Umar dan komandan sayap kanan). ‘Abdullah bin ‘Umar termasuk mereka yang hidup menyelesaikan pertempuran ini dalam keadaan hidup.

Ketika ‘Abdullah pulang ke Madinah, ia mengunjungi ayahnya, tetapi tidak ada sambutan bahagia yang tampak dari mata ‘Umar ketika ia melihat anaknya. “Mengapa engkau tidak terbunuh di samping Zayd? Zayd telah gugur dan engkau masih hidup! Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi!”

“Ayah,” sahut anak muda pemberani ini dengan sopan, “pamanku meminta syahid dan Allah menghadiahkannya untuknya. Aku juga memohon syahid, tetapi aku tidak berhasil mendapatkannya.”[2]

Dalam Pertempuran Yamamah, peperangan yang dikobarkan oleh Abu Bakr mencapai klimaks. Strategi Abu Bakr memberdayakan Khalid sebagai tangan kanannya untuk melibas pimpinan-pimpinan murtad yang paling kuat secara berturut-turut, dari yang paling dekat sampai ke yang paling jauh, telah mencapai keberhasilan yang membanggakan. Setelah ini semua dicapai, pertempuran lainnya akan menjadi lebih mudah.

Satu episode masih tersisa sebelum kita mengakhiri Pertempuran Yamamah. Pada hari ketika gerbang benteng Kota Yamamah dibuka, Khalid duduk di luar tendanya pada malam hari. Di sampingnya, duduklah Muja’ah. Mereka hanya berdua.

Tiba-tiba, Khalid menoleh kepada Muja’ah dan berkata, “Aku ingin menikahi anakmu!”

Muja’ah tercengang. Dia merasa salah mendengar.

Khalid mengulanginya dengan suara lebih tegas, “Aku ingin menikahi anakmu!”

Muja’ah sekarang menyadari bahwa Khalid tidak gila dan Khalid paham akan kata-katanya. Namun melihat kondisi saat itu, ide untuk menikah terdengar konyol. “Sabar, wahai Khalid!” jawabnya. “Apakah engkau mau membuat Khalifah mematahkan punggungmu dan punggungku juga?”

“Aku ingin menikahi anakmu,” ulang Khalid. Dan pada malam itu juga, ia menikai anak Muja’ah bin Murarah yang cantik.

Beberapa hari kemudian, Khalid menerima surat teguran keras dari Abu Bakr. “Wahai anaknya ibu Khalid!” tulis Khalifah dalam suratnya. “Engkau masih punya waktu untuk menikahi perempuan sementara di lapangan, darah 1.200 Muslim belum lagi kering!” Ketika ia membaca surat ini, Khalid bergumam, “Ini pasti ulah Si Kidal![3]

Namun, ia tetap melanjutkan kebahagiaannya bersama istri barunya. Nampaknya ia tidak lagi terpaku pada janda cantik Malik bin Nuwayrah. Kita tidak mengetahui bagaimana kelanjutan kisah Layla karena namanya tidak lagi disebutkan dalam sejarah setelah itu.

Catatan Kaki Halaman 12
[1] Pengunjung Jubayla di masa kini akan melihat pekuburan di tepi selatan wadi. Di sanalah para syuhada Muslim dikburkan. Di tepi utara, akan terlihat sebuah wilayah gundukan tanah di antara desa dan parit. Di sana, para murtad yang tewas dikuburkan.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 512-513.
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 519.

--Akhir dari Bab 16--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57b2b7cc902cfe15688b456a/242/-

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (35) Pertempuran Yamamah (Bagian 3)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
(Halaman 7)

Musaylimah berhasil kembali ke tengah-tengah penjaganya. Tetapi proses ini memberikan pengaruh psikologis yang berbeda kepada kedua pasukan: satu pasukan kehilangan semangat, sedangkan pasukan lainnya mendapat tambahan semangat. Kaburnya ‘nabi’ dan panglima mereka dari Khalid adalah suatu pemandangan memalukan di mata para murtad, dan Pasukan Muslim pun gembira. Untuk memanfaatkan keunggulan dalam hal psikologi ini, Khalid memerintahkan serangan yang baru.

Dengan teriakan Allahu Akbar, Pasukan Muslim kembali maju menyerang. Mereka bertarung dengan semangat dan tenaga yang baru. Pada akhirnya, tanda-tanda kemenangan mulai terlihat. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang. Kemunduran mereka semakin cepat. Semangat Pasukan Muslim meningkat dan menggandakan upaya mereka. Kemudian, barisan kafir mulai terpecah-pecah.

Musaylimah tidak bisa melakukan apa-apa. Komandan utamanya yaitu Rajjal, tewas. Komandan sayap kanannya, yaitu Muhakim, beraksi untuk menyelamatkan pasukan murtadnya. “Bani Hanifah!” teriaknya. “Ke kebun! Ke kebun! Masuklah ke kebun dan aku akan melindungi kalian dari belakang!”

Namun terpecahnya barisan pasukan murtad tidak bisa diatasi lagi. Sebagian besar pasukan melarikan diri, menyebar ke berbagai arah. Hanya sekitar seperempat dari pasukan Musaylimah yang tersisa dan mereka mundur untuk bertahan di dalam kebun berbenteng selagi Muhakim melindungi bagian belakang mereka bersama sebagian kecil pasukannya. Pasukan kecil ini dengan segera dibinasakan oleh Pasukan Muslim dan Muhakim tewas akibat anak panah dari anak Khalifah, Abdurrahman.

Pasukan Muslim sekarang mengejar pasukan murtad dengan menyeberangi dataran Aqraba`, membunuh mereka yang tertinggal. Dengan cepat, mereka tiba di luar kebun berbenteng, tempat sekitar 7.000 murtad bertahan. Musaylimah bersama mereka. Pasukan kafir ini menutup gerbang dan dengan benteng yang tinggi, mereka merasa aman. Namun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi!

Sebagian besar Pasukan Muslim berkumpul di dekat Kebun Kematian. Saat itu adalah siang hari mendekati petang dan Pasukan Muslim gelisah, ingin segera masuk ke dalam kebun dan menyelesaikan tugas mereka sebelum malam tiba. Tetapi tidak ada jalan masuk. Dinding kebun ini terlalu kuat dan gerbang dikunci dari dalam. Mereka tidak menyiapkan peralatan pengepungan dan mereka tidak punya waktu untuk mengepung.

Ketika Khalid mencari ide, seorang prajurit tua bernama Bara`a bin Malik, yang berdiri di bagian pasukan yang tepat menghadap ke gerbang, berkata kepada rekan-rekannya, “Lemparkan aku melewati dinding itu sampai masuk ke dalam kebun.”[1] Rekan-rekannya menolak; Bara`a adalah salah seorang sahabat nabi yang terkemuka dan dihormati dan mereka merasa segan untuk melakukan suatu hal yang bisa saja menyebabkan kematiannya. Tetapi Bara’a bersikeras dan memaksa. Akhirnya, rekan-rekannya setuju dan mengangkatnya dengan bahu-bahu mereka di dekat dinding. Ia berhasil memegang pinggiran dinding, lalu naik dan melompat ke dalam kebun. Dalam satu menit atau lebih, ia sudah membunuh dua atau tiga prajurit kafir yang berdiri di antaranya dan gerbang. Sebelum prajurit musuh lainnya menghalangi, dia sudah berhasil melonggarkan kunci gerbang. Gerbang pun terbuka dan Pasukan Muslim masuk bagaikan air bah yang memecah dinding bendungan sambil meneriakkan seruan perang. Bagian terakhir dan paling brutal dari Pertempuran Yamamah pun dimulai.

Pada awalnya, pasukan kafir mampu menahan majunya Pasukan Muslim yang tertahan dengan sempitnya gerbang dan kurangnya ruangan untuk menggerakkan tangan. Tetapi, sedikit demi sedikit, Pasukan Muslim membuka jalan di tengah badan pasukan murtad yang mulai jatuh, tewas bertumpuk akibat serbuan penyerang. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang dan Pasukan Muslim mulai membanjiri kebun.

Pertempuran semakin brutal. Karena tidak ada ruangan yang cukup untuk manuver, kedua belah pihak bertarung mati-matian dengan siapa saja musuh di depan mereka. Sedikit demi sedikit, barisan pasukan murtad menipis. Namun Musaylimah terus bertempur: ia tidak memiliki keinginan untuk menyerah. Ketika baris depan pasukannya sudah semakin dekat dengan lokasi dirinya, Musaylimah menghunuskan pedangnya dan terjun langsung ke dalam pertarungan, memberikan kejutan kepada Pasukan Muslim dengan kekuatan dan ketangkasannya. Si jenderal yang cerdik ini ternyata juga seorang prajurit pemberani dan terampil. Mulutnya mulai berbusa-busa, situasi yang gawat itu mengubahnya dari seorang nabi palsu berwajah buruk menjadi seorang setan yang nampak perkasa.

Fase terakhir pertempuran sekarang memasuki puncaknya. Pasukan Muslim menekan pasukan murtad di setiap titik dan hanya usaha keras Musaylimah yang mencegah jatuhnya mereka secara menyeluruh. Pasukan Muslim memotong, menyayat, dan menusuk dalam amukan pertempuran. Tubuh-tubuh yang tercabik-cabik dan terpotong-potong bergelimpangan di tanah. Mereka yang jatuh sebelum mati mengalami kematian yang menyakitkan karena terinjak-injak. Pemandangan nampak sangat mengerikan dan debu beterbangan di atas tanah yang mulai menjadi lumpur merah.

Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.
____________________________________________________________________________
(Halaman 8)

Banyak prajurit murtad mendekati Musaylimah. “Mana kemenangan yang engkau janjikan?” tanya mereka. “Bertempurlah, wahai Bani Hanifah!” menjadi jawabannya. “Bertempurlah sampai akhir!”[1]

Musaylimah paham bahwa ia tidak akan mendapat ampunan oleh Khalid, ia paham bahwa ia akan binasa, dan dengan segala akal licik yang tersisa, ia memutuskan untuk membawa sukunya mati bersamanya. Darah dari sejumlah prajurit Muslim menetes dari pedangnya. Fanatisme pendukungnya tidak mengendur, mereka bertarung di sekitarnya. Lalu ia masuk dalam jalur pandangan Si Barbar. Si Barbar adalah salah satu kriminal perang yang namanya diumumkan oleh nabi yang mulia di malam sebelum Penaklukkan Makkah. Karena khawatir dengan nyawanya, ia kabur dari Makkah dan pergi ke Tha’if dan tinggal bersama Suku Tsaqif selama beberapa waktu. Kemudian pada tahun 9 H, ketika Tsaqif menyerah kepada nabi, ia pun masuk Islam dan secara langsung menyatakan bay’at kepada nabi.

Nabi sudah bertahun-tahun tidak melihatnya dan ia tidak yakin bahwa dialah orangnya. “Apakah engkau Si Barbar?” tanya beliau.

“Benar, wahai Rasulullah!”

“Ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.”[2]

Si Barbar menceritakan keseluruhan ceritanya dari awal sampai akhir. Ketika bercerita, ia tidak menahan diri untuk mempertimbangkan sisi etis dari episode kehidupannya itu, bahwa ia telah membunuh salah seorang beriman yang paling mulia dan gagah perkasa. Ia menyampaikan kisahnya seperti halnya seorang veteran perang yang bangga menceritakan kehebatannya di masa dahulu. Dan membunuh seorang prajurit hebat sekelas Hamzah tidak diragukan lagi adalah sebuah prestasi militer. Si Barbar juga ahli dalam bercerita.

Namun tidak ada yang terkesan. Wajah nabi tampak tenggelam dalam kesedihan dan ia berkata, “Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi.”[3] Sesuatu di dalam hatinya memberi peringatan kepada Si Barbar bahwa jika ia tetap di Madinah, ingatannya akan Hamzah akan muncul kembali dan hal ini tidak sehat baginya. Si Barbar pun pergi dari Madinah saat itu juga.

Selama dua tahun, ia tinggal di sejumlah perkampungan di sekitar Tha’if, hidup dengan tidak terlalu menarik perhatian orang dan para musafir. Ia resah dengan hidupnya. Hidupnya penuh penyesalan. Lalu datanglah tren kemurtadan. Si Barbar tetap setia dengan agama barunya dan memilih untuk bertempur untuk Islam melawan kaum kafir. Dan sekarang, ia mengabdi sebagai prajurit di bawah panji Pedang Allah.

Si Barbar mengeratkan pegangannya pada lembing ketika ia melihat Musaylimah. Lembing ini telah mengirim begitu banyak orang pada kematian mereka. Sang Pendusta bertarung dengan gagah berani. Dalam menahan serangan Pasukan Muslim yang berusaha mendekari dirinya, ia bertarung di depan para penjaganya, dan sekarang, bertarung di antara mereka. Sekali-sekali, ia dilindungi oleh penjaganya, tetapi ia tidak pernah lepas dari mata si pembunuh hitam yang tidak berkedip. Si Barbar telah memilih korbannya. Kematiannya mungkin akan meringankan sakit mengganjal di hatinya.

Dari posisinya, agak sedikit jauh dari barisan depan Pasukan Muslim, Si Barbar bergerak maju dengan diam-diam untuk masuk ke dalam jangkauan lembingnya. Kerumunan prajurit yang saling mencaci, berkeringat, berlumuran darah, yang melingkupi Musaylimah dari berbagai sisi, seolah-olah hilang dari pandangannya. Dalam pikiran Si Barbar, hanya calon korbannya yang terlihat.

Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 72
[3] Ibid.
____________________________________________________________________________
(Halaman 9)

Si Barbar melihat Ummu Ammarah, perempuan terkemuka dari Pertempuran Uhud (meskipun pada saat itu, tidak ada Nampak seperti perempuan pada umumnya), berjuang untuk mendekati Musaylimah. Ia berduel melawan seorang prajurit kafir yang menghalangi tujuannya. Tiba-tiba, prajurit kafir itu menyabetkan pedang dan memotong tangannya. Anak laki-laki Ummu Ammarah yang berdiri di sebelahnya, membunuh prajurit itu dengan satu sabetan pedang mematikan dan ia segera menolong ibunya untuk menjauh dari lokasi. Ummu Ammarah merasa sangat kecewa tidak bisa mencapai posisi Musaylimah.

Si Barbar mendekat. Di dalam pikirannya, ia teringat kembali pada syuhada mulia yang ia bunuh dalam Pertempuran Uhud, yaitu Hamzah. Perbuatannya tersebut telah membuatnya sengsara. Ia masih ingat dengan jelas bentuk fisik Hamzah yang enak dilihat, gagah, dan tampan. Ia berusaha untuk membuang kenangan buruk tersebut dan kemudian melihat kembali ke arah Musaylimah. Ia kaget dengan perbedaan keduanya. Penampilan si nabi palsu sangat jelek, kulitnya kuning, berhidung pesek, diperparah lagi dengan wajah penuh kemarahan dan kebencian, serta busa yang mewarnai bibirnya. Tampilannya sangat mengerikan. Semua kejahatan dari laki-laki jahat ini tampak memancar keluar dari wajahnya.

Dengan matanya yang terlatih, Si Barbar mengukur jarak. Lembingnya sudah masuk dalam daerah jangkauan yang tepat. Di saat ia hendak mengambil kuda-kuda untuk melempar sambil membidik, Abu Dujanah (salah seorang yang menjadi tameng hidup bagi nabi dalam Pertempuran Uhud) menyabetkan pedangnya untuk mencapai lokasi Musaylimah. Abu Dujanah adalah seorang ahli pedang dan sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya. Sambil menggeram, Si Barbar melemparkan lembingnya.

Lembing itu menusuk Musaylimah pada bagian perutnya. Nabi palsu itu roboh, raut wajahnya menunjukkan rasa sakit, jari-jarinya mencakar-cakar pegangan pedangnya. Abu Dujanah sudah berada di sampingnya. Dengan satu sabetan akurat, ia memenggal Sang Pendusta. Ketika Abu Dujanah berdiri tegak untuk mengumumkan berita gembira ini, satu sabetan pedang prajurit kafir menjatuhkannya juga ke tanah. Salah seorang prajurit murtad melihat kondisi Sang Pendusta, dan ia berteriak, “Seorang budak hitam telah membunuhnya.” Jeritan ini didengar oleh Pasukan Muslim dan kafir, bersahut-sahutan ke seluruh kebun, “Musaylimah sudah mati!”[1]

Si Barbar kelak terus mengabdi dalam Operasi Militer Syams di bawah komando Khalid. Ketika Syams telah ditaklukkan dan menjadi salah satu provinsi dalam negara Islam, Si Barbar menetap di Emessa dan hidup sampai usia yang cukup tua. Tetapi, ia menghabiskan kebanyakan harinya dalam keadaan mabuk. Ia bahkan beberapa kali dihukum 80 kali cambuk oleh ‘Umar karena tindakan ini (ia adalah Muslim pertama yang dihukum atas pelanggaran ini di Syams)[2], tetapi ia tidak bisa menjauhkan diri dari minuman keras. ‘Umar berkomentar tentangnya, “Mungkin kutukan Allah masih ada di dalam diri Si Barbar karena ia telah menumpahkan darah Hamzah.”[3]

Di Emessa ini juga, kelak ia akan menjadi seorang terkenal dan penarik perhatian pelancong. Pengunjung akan datang ke rumahnya, berharap ia dalam keadaan sadar, kemudian bertanya kepadanya tentang Hamzah dan Musaylimah. Jika ia tidak dalam keadaan mabuk, ia akan menceritakan semua rincian kisah pembunuhan Hamzah dan pembunuhan Musaylimah. Di akhir ceritanya, ia selalu mengangkat lembingnya dengan bangga dan berkata, “Dengan lembing ini, di masa kafir, aku membunuh lelaki terbaik, dan di masa beriman, aku membunuh lelaki terburuk![4]

Kabar kematian Musaylimah Sang Pendusta menyebabkan runtuhnya moral pasukan murtad secara cepat. Sebagian dari mereka putus asa dan mencoba melakukan serangkaian serangan bunuh diri yang brutal, tetapi mereka hanya memperpanjang penderitaan mereka sebelum mati. Kebanyakan dari kelompok murtad kehilangan semangat dan dalam keputusasaan, mereka hanya menunggu waktu kapan pedang prajurit-prajurit Muslim mengakhiri penderitaan mereka. Dengan upaya terakhir, Pasukan Muslim melakukan serbuan di tengah gerombolan pasukan murtad yang kebingungan, memenuhi janji kemurkaan Allah kepada pasukan kafir. Pertempuran tidak lagi terlihat berimbang, lebih terlihat seperti pertarungan yang berat sebelah.

Ketika matahari terbenam, suasana tenang dan hening kembali menyelimuti Kebun Kematian. Pasukan Muslim terlalu lelah untuk mengangkat pedang-pedang mereka. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diperangi.

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 330.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[4] Ibid.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57a43648925233217e8b4567/239/-

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (34) Pertempuran Yamamah (Bagian 2)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
(Halaman 4)

Komandan-komandan satuan Pasukan Muslim maju ke depan resimen-resimen mereka masing-masing, mereka membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mengingatkan kepada mereka yang beriman tentang janji surga bagi para syuhada dan ancaman neraka bagi mereka yang pengecut.

Di pagi hari yang dingin, pekan ketiga Desember 632 M (awal Syawwal 11 H), Pertempuran Yamamah dimulai.

Khalid memerintahkan sebuah serangan umum dan semua barisan Muslim maju dengan seruan perang Allahu Akbar. Khalid memmimpin langsung di tengah, Abu Hudzayfah dan Zayd memimpin kedua sayap. Kedua pasukan memulai kecamuk pertarungan dan udara dipenuhi suara-suara keras para prajurit yang saling menyabetkan dan menusukkan senjata mereka. Khalid membunuh setiap musuh yang datang menghampirinya. Para jagoan Muslim mempertunjukkan bakat keberanian mereka dan Khalid merasa bahwa prajuritnya akan dengan segera memecah barisan pasukan kafir.

Namun pasukan kafir bertahan seperti batu. Banyak yang tewas dalam serangan pasukan beriman, tetapi barisan pasukan kafir tidak putus. Para murtad bertempur dengan penuh kefanatikan, mereka lebih memilih mati daripada mundur; dan Pasukan Muslim menyadari dengan sedikit kaget bahwa mereka tidak mendapatkan kemajuan. Setelah beberapa lama waktu dihabiskan dengan serangan yang keras, sedikit ketidakteraturan mulai tampak di barisan Muslim sebagai hasil dari gerakan mereka maju ke arah musuh dan dalam upaya mereka untuk menusuk barisan depan pasukan kafir. Tetapi hal ini tidak menjadi perhatian khusus. Selama mereka tetap dalam fase menyerang dan musuh dalam fase bertahan, sedikit ketidakteraturan bukanlah sebuah masalah.

Kemudian Musaylimah menyadari bahwa jika ia tetap bertahan, peluang pasukan Muslim untuk menembus barisan mereka semakin meningkat. Ia memerintahkan serangan balik di semua baris depan. Pasukan murtad maju seperti air bah dan Pasukan Muslim pun ditekan mundur. Pertarungan semakin keras ketika mereka berupaya sekuat tenaga untuk membendung gerakan maju pasukan murtad. Pasukan murtad harus membayar mahal dengan darah yang tertumpah di setiap meter tanah yang mereka rebut. Tetapi karena mereka diperkuat oleh keyakinan mereka pada janji Sang Pendusta bahwa surga juga menunggu mereka yang tewas, mereka pun tetap maju menyerang. Beberapa lokasi di resimen Muslim mulai menunjukkan berkurangnya kerapihan barisan karena bercampurnya pasukan dari berbagai suku membuat mereka belum terbiasa untuk bertarung berdampingan.

Sedikit demi sedikit, keunggulan jumlah pasukan murtad mulai menunjukkan hasil. Mereka bertempur dalam barisan yang lebih tebal melawan barisan Pasukan Muslim yang lebih tipis. Mereka mulai meningkatkan tekanan serangan. Pasukan Muslim mulai mundur dengan teratur. Kemudian, mereka mundur lebih cepat lagi. Serangan pasukan murtad semakin tegas dan kemunduran Pasukan Muslim berubah menjadi gerakan mundur yang kacau. Beberapa resimen berbalik dan melarikan diri, resimen lainnya juga mengikuti dan menyebabkan Pasukan Muslim secara umum meninggalkan medan pertempuran. Para komandan satuan tidak bisa menghentikan anggota mereka dan mereka pun ikut tersapu dengan gelombang mundurnya para prajurit. Tentara Muslim mundur sampai melewati perkemahan mereka dan terus mundur sampai berhenti agak jauh dari sana.

Ketika Pasukan Muslim meninggalkan dataran Aqraba`, pasukan murtad melakukan pengejaran. Manuver ini tidak direncanakan, tetapi merupakan sebuah reaksi naluriyah, seperti halnya reaksi Pasukan Muslim kepada Pasukan Quraysy pada fase pertama Pertempuran Uhud di masa lalu. Den seperti Pasukan Muslim saat itu, pasukan murtad berhenti di perkemahan musuh dan mulai memungut harta rampasan perang. Lagi-lagi seperti halnya pada Pertempuran Uhud, terhentinya musuh dalam proses ini memberi waktu bagi Khalid untuk mempersiapkan dan melancarkan serangan balasan. Bahkan lebih dari itu nantinya.

Di perkemahan Muslim, berdiri juga kemah Khalid dan di dalamnya, duduklah istri barunya, Layla, dan tawanannya, Muja’ah, yang masih diikat. Sejumlah kecil prajurit kafir yang terdorong dengan kesuksesan awal dan bersemangat dengan pikiran akan mendapat banyak harta rampasan perang, masuk ke dalam tenda Khalid. Mereka melihat dan mengenali Muja’ah. Mereka juga melihat Layla dan bermaksud untuk membunuhnya, tetapi ditahan oleh Muja’ah, pemimpin mereka, “Aku adalah pelindungnya. Bunuhlah para laki-laki!”[1] Dalam keterburu-buruan mereka untuk mengambil harta rampasan perang, prajurit kafir ini pun tidak sempat untuk membebaskan pemimpin mereka itu.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 51.
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Dalam beberapa saat, penghancuran kemah terjadi begitu cepat karena para prajurit kafir mengambil apa saja yang bisa mereka bawa dan menghancurkan yang tidak bisa mereka bawa. Mereka menyobek-nyobek kain-kain tenda. Dan secepat itu mereka memulai, secepat itu pula penjarahan ini berakhir. Pasukan murtad dengan segera kembali ke dataran Aqraba` karena di selatan, mereka sudah melihat bahwa Pasukan Muslim telah kembali berbaris rapi dan bergerak maju untuk kembali ke medan pertempuran.

Secara menakjubkan, ketika mereka berhenti untuk menarik napas dan memikirkan tentang apa yang telah terjadi, tidak ada sedikitpun rasa takut dalam hati Pasukan Muslim. Perasaan yang muncul justru rasa marah terhadap kekacauan barisan mereka sendiri dan proses bagaimana mereka mundur dari medan pertempuran. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Mereka secara kasat mata telah menyebabkan pukulan lebih telak kepada musuh daripada pukulan yang mereka terima.

Keberanian mereka tetap membara, tetapi mereka juga penasaran. Kekesalan mereka dikeluarkan dengan saling menuduh antar suku: satu suku terhadap satu suku, satu klan terhadap satu klan, penduduk kota terhadap badui nomaden. Mereka menyalahkan satu sama lain. Penduduk kota berkata, “Kami lebih paham tentang perang daripada kalian.” Badui penghuni gurun menjawab, “Tidak, kami lebih paham.” Intensitas keributan meningkat, “Ayo kita berkelompok berdasarkan masing-masing suku. Akan kita lihat siapa yang bisa mempertahankan kehormatannya.”[1]

Khalid sudah bisa melihat apa yang salah. Barisan depan pasukan murtad bisa menahan serangan Pasukan Muslim. Terlebih lagi, pasukan murtad melancarkan serangan balik ketika Pasukan Muslim mulai kehilangan kerapihan barisannya. Pasukan Muslim kehilangan keseimbangan mereka dan dalam tekanan serangan balik, mereka tidak mampu mengembalikan keseimbangan tersebut. Penyebab hal ini bukanlah keberanian mereka yang kurang.

Khalid juga mengevaluasi bahwa membentuk resimen dari campuran berbagai suku adalah sebuah kesalahan karena perasaan kesukuan masih sangat kuat di antara orang Arab. Hal ini justru memberikan tambahan kekuatan bagi keunikan yang sudah dimiliki Tentara Muslim, yaitu semangat Islam, keberanian, dan bakat individu. Dalam menghadapi musuh yang unggul jumlah satu banding tiga serta memiliki fanatisme pada Musaylimah, hilangnya loyalitas kesukuan dari Pasukan Muslim melemahkan kesatuan resimen-resimen Muslim.

Khalid memperbaiki kesalahan ini dan mengelompokkan ulang pasukannya. Ia menyusun pasukan dalam formasi yang masih sama dengan komandan yang sama pula, tetapi prajurit-prajuritnya sekarang dibentuk dalam unit-unik klan dan suku. Jadi, setiap prajurit akan bertempur bukan hanya untuk Islam, tetapi juga untuk kehormatan klannya. Dengan ini, akan muncul persaingan sehat antar klan.

Setelah reorganisasi selesai, Khalid dan komandan-komandan seniornya kembali maju ke resimen masing-masing dan berpidato untuk menguatkan kembali niat mereka untuk menghukum Musaylimah setelah hal memalukan yang mereka alami. Para prajurit bersumpah bahwa jika memang diperlukan, mereka akan bertempur dengan gigi mereka.

Khalid juga mengumpulkan sejumlah kecil prajurit dan membentuknya menjadi pasukan penjaga pribadinya. Tujuannya tidak lain bahwa ia akan memberi contoh kepada para pasukannya dengan turun langsung bertarung di medan pertempuran. Pasukan penjaga kecilnya ini nantinya akan sangat berguna. “Tetaplah berada di belakangku,” perintahnya kepada mereka.

Pasukan Muslim yang telah disusun ulang kembali maju dengan barisan yang rapi ke dataran Aqraba`. Mereka kembali dalam pertempuran tidak seperti singa biasa, tetapi seperti singa yang lapar!

Sementara itu, Musaylimah menyusun kembali barisan pasukannya dalam formasi yang sama seperti sebelumnya. Ia menunggu pukulan kedua dari Pedang Allah dengan percaya diri bahwa ia kembali mengusir Pasukan Muslim dari medan pertempuran.

Di bawah perintah Khalid, Pasukan Muslim menyerang dengan seruan Allahu Akbar dan Ya Muhammad[2]. Pasukan Muslim yang lebih sedikit mulai melakukan kontak fisik dengan pasukan murtad yang lebih besar. Sayap bertemu dengan sayap dan tengah bertemu dengan tengah. Komandan sayap kanan Muslim, Zayd, bertemu langsung dengan Rajjal si pengkhianat yang memimpin sayap kiri pasukan kafir. Karena masih berharap menyelamatkan teman lamanya dari api neraka, Zayd memanggilnya, “Wahai Rajjal! Engkau telah meninggalkan agama yang benar. Kembalilah padanya. Itu jauh lebih mulia dan baik bagimu.”[3] Si pengkhianat menolak dan dalam duel sengit setelahnya, Zayd mengantarnya ke neraka. 

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.
[2] Ada kesalahpahaman di sini. Slogan yang sebenarnya adalah “Ya Muhammadah! (Untuk Muhammad!)”, bukan “Ya Muhammad! (Wahai Muhammad!)”. Ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Vol. 6, hlm. 397. Seruan ini sama seperti halnya “Ya Islamah! (Untuk Islam!)”. Kata “ya” adalah penguat, bukanlah sebuah bentuk doa seperti dalam pernyataan nabi (saw), “Ya tuba lisy Syam!” (“Semoga ada sukacita bagi Syam!”), dan hal ini dikonfirmasi dengan akhiran “ah”. Para sahabat (nabi-pent) paham bahwa mereka tidak mungkin berdoa kepada nabi (saw)!
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 511. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Pasukan Muslim melancarkan serangan brutal disepanjang front dan pasukan murtad menahan mereka sekuat tenaga. Barisan mereka tidak juga putus. Ratusan pasukan murtad tewas dan korban di pihak Muslim juga mulai meningkat. Dengan keunggulan jumlah pasukan murtad dan keunggulan keterampilan-keberanian Pasukan Muslim, kedua pihak bertempur dengan imbang. Baris depan kedua pihak terkunci dalam pertarungan hidup mati, saling menekan dan tertekan. Debu beterbangan akibat jejakan ribuan kaki, menggantung di udara seperti awan di atas kepala para pasukan. Pedang-pedang dan tombak-tombak yang patah, berserakan di wadi dan medan pertempuran, demikian juga dengan tubuh-tubuh yang terkoyak dan terpotong menumpuk di atas tanah yang basah dengan darah. Pemandangan paling mengerikan tampak di sungai kecil yang mulai mengalirkan darah manusia dan bermuara ke wadi. Sebagai akibatnya, sungai kecil ini dikenal dengan nama Sungai Darah, Syu’aybud Dam, dan sampai sekarang, masih dikenal dengan nama tersebut. Namun pertempuran masih berjalan imbang dan tidak menunjukkan akan berakhir dengan kemenangan pasukan tertentu.

Khalid mulai memahami bahwa dengan keyakinan fanatik pada nabi palsu mereka, para murtad ini tidak akan menyerah. Sangat jelas, hanya kematian Musaylimah yang dapat mematikan semangat pasukan kafir. Patahnya semangat mereka akan dengan cepat berubah menjadi kekalahan fisik. Tetapi Musaylimah tidak terjun langsung dalam kontak senjata, tidak seperti Khalid. Ia harus dipancing keluar dari zona aman di belakang barisan pasukan murtad, ia berdiri dikelilingi oleh para pengikut setianya.

Ketika ketegangan dalam pertempuran brutal itu menurun, para prajurit mulai menarik napas kembali. Pertarungan reda sementara. Kemudian Khalid maju ke arah bagian tengah musuh dan melemparkan tantangan untuk berduel, “Aku anak Al-Walid! Ada yang berani berduel denganku?” Sejumlah jagoan keluar dari barisan pasukan murtad untuk menyambut tantangan ini. Khalid mungkin hanya menghabiskan satu menit untuk membunuh masing-masing penantang. Setiap setelah selesai berduel, ia selalu membacakan sya’irnya sendiri,

“Aku adalah anak dari para bangsawan.
Pedangku tajam dan mengerikan.
Pedang ini adalah benda paling perkasa,
ketika perang mendidih dengan ganas.”[1]

Sedikit demi sedikit, Khalid maju ke arah Musaylimah, membunuh jagoan musuh satu demi satu. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang berani maju untuk melawannya. Namun ia sudah cukup dekat dengan Musaylimah untuk berbicara dengannya tanpa berteriak. Sang Pendusta masih dikelilingi para penjaganya dan Khalid tidak bisa mendekatinya.

Khalid mengajaknya berbicara. Musaylima menanggapinya. Ia maju dengan hati-hati dan berhenti di luar jangkauan duel. “Jika kita bernegosiasi, syarat apa yang akan kau terima!”[2] tanya Khalid.

Musaylimah menelengkan kepalanya ke salah satu sisi seolah-olah ia mendengarkan bisikan seseorang yang tidak kelihatan berdiri di sampingnya, ia terlihat juga berbicara sendiri. Seperti itulah ia “menerima wahyu”! Melihat kelakuannya itu, Khalid teringat pada perkataan nabi yang mulia bahwa Musaylimah tidak pernah sendiri, selalu ada Setan di sampingnya. Ia tidak akan pernah menentang perintah Setan dan dalam percakapannya, biasanya liur berbusa akan berkumpul di bibirnya. Setan melarang Musaylimah untuk menyepakati syarat apapun, dan Sang Pendusta kemudian menoleh kepada Khalid sambil menggelengkan kepala.

Khalid memutuskan untuk membunuh Musaylimah. Ajakan bicara hanyalah umpan untuk memancingnya keluar dan mendekat. Khalid harus bekerja cepat sebelum Musaylimah mundur ke lokasi aman bersama para penjaganya. Lagi-lagi, Musaylimah menelengkan kepalanya untuk mendengarkan “suara”. Di saat itu juga, Khalid melompat ke arahnya.

Khalid cukup cepat. Tetapi Musaylimah lebih cepat. Dalam sekejap, ia berbalik arah dan melarikan diri kembali ke zona aman!

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/579ec2ff620881b85a8b4568/235/-

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (33) Pertempuran Yamamah (Bagian 1)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
(Halaman 1)

“Musaylimah! Kembalilah, jangan melawan.
Sungguh dalam urusan (kenabian) itu, engkau tidak memiliki bagian.
Engkau berdusta tentang Allah dan wahyu-Nya.
Dan nafsumu adalah hasrat seorang yang bodoh.
Kaummu membiarkanmu dan bukannya mencegah perbuatanmu.
Tetapi jika Khalid datang kepada mereka, engkau akan ditinggalkan.
Kemudian, engkau akan kehilangan tangga menuju langit.
Dan hilang pula jalan bagimu di bumi.”
[Tsumamah bin Utsal, seorang Sahabat (nabi-pent) dari suku Musaylimah][1]

Ketika Abu Bakr menyusun pasukan-pasukan Muslim dalam 11 korps di Zhu Qissa, ia menunjuk ‘Ikrimah bin Abu Jahl sebagai salah satu komandannya. Perintah bagi ‘Ikrimah adalah bahwa ia harus berangkat dan menemui pasukan Musaylimah Sang Pendusta di Yamamah, tetapi menghindarkan diri dari kontak bersenjata dengan si nabi palsu. Abu Bakr lebih paham tentang kekuatan dan kemampuan Musaylimah daripada kebanyakan jenderalnya, dan ia tidak ingin mengambil risiko untuk memeranginya dengan pasukan yang tidak cukup kuat. Karena Khalid adalah jenderal terbaiknya, Khalifah memutuskan untuk memberinya peran utama dalam mengatasi Musaylimah setelah ia menyelesaikan tugas-tugasnya terhadap musuh-musuh Islam lainnya.

Maksud Abu Bakr dalam memberikan misi ini kepada ‘Ikrimah adalah untuk memaksa Musaylimah tidak bergerak dari Yamamah. Dengan keberadaan ‘Ikrimah di dekatnya, Sang Pendusta harus siaga dari serangan Muslim terhadap markasnya jika ia pergi dari sana. Dengan Musaylimah terikat di Yamamah, Khalid dapat dengan bebas untuk menyelesaikan tugasnya menumpas suku-suku murtad di Arab Utara-Tengah tanpa halangan. ‘Ikrimah dipilih Abu Bakr karena ia adalah seorang pemberani. Terlebih lagi, ‘Ikrimah masih penasaran untuk membuktikan ketaatannya pada Islam dan untuk menebus dosa lamanya ketika masih memerangi nabi yang mulia.

‘Ikrimah berangkat bersama korpsnya dan mendirikan perkemahan di dekat Yamamah. Lokasi perkemahan ini tidak diketahui. Dari markasnya ini, ia bisa mengawasi pergerakan pasukan Bani Hanifah sambil menunggu instruksi lanjutan dari Khalifah. Keberadaan ‘Ikrimah juga memenuhi harapan agar menahan Musaylimah tetap di Yamamah. Namun, tidak diketahui apakah sebelum kedatangan ‘Ikrimah, ia benar-benar memiliki niat untuk meninggalkan Yamamah.

Ketika ‘Ikrimah menerima laporan tentang kekalahan Thulayhah oleh Khalid, ia mulai tidak sabar. Aktivitasnya yang hanya menunggu menggeliltik sumbu temperamennya yang pendek. ‘Ikrimah adalah seorang yang tidak kenal takut dan jenderal yang sangat bersemangat, tetapi ia tidak memiliki kesabaran dan ketenangan dalam membuat keputusan militer seperti Khalid. Kualitas inilah yang membedakan antara panglima yang pemberani dengan panglima yang gegabah.

Pada perkembangan berikutnya, ‘Ikrimah mendengar bahwa Syurahbil bin Hasanah bersama korpsnya berangkat untuk bergabung dengannya. Korps Syurahbil diberi instruksi oleh Khalifah untuk mengikuti ‘Ikrimah dan menunggu instruksi lanjutan. Dalam beberapa hari, Syurahbil akan tiba di lokasi.

Kemudian datang kabar bahwa Khalid telah memukul mundur Salma, sang perempuan yang memimpin para pengikut laki-lakinya. ‘Ikrimah tidak mau menunggu lebih lama. Mengapa dia harus membiarkan Khalid memperoleh semua kemenangan? Mengapa pula harus menunggu Syurahbil? Mengapa tidak ia sendiri yang mencoba untuk menyerang Musaylimah? Jika ia bisa mengalahkan Musaylimah tanpa bantuan, ia juga akan memperoleh kebanggaan dan ketenaran yang melebihi prestasi jenderal-jenderal lainnya. Dan tentu saja hal itu akan menjadi kejutan terbaik untuk Khalifah! ‘Ikrimah memberangkatkan korpsnya pada akhir Oktober 632 (akhir Rajab 11 H).

Beberapa hari kemudian, ia kembali ke perkemahannya setelah menerima kekalahan telak dari Musaylimah. Setelah dihajar dan menyesal dengan keputusannya ini, ia menulis surat kepada Abu Bakr dan melaporkan semua tindakannya, termasuk hasilnya yang memalukan. Syurahbil juga mendengar kabar ini dan berhenti tidak begitu jauh dari perkemahan ‘Ikrimah.

Abu Bakr kesal dan marah atas tindakan ‘Ikrimah yang gegabah dan tidak patuh pada perintah yang telah diberikan. Tanpa menyembunyikan rasa marahnya, Abu Bakr menuliskan perintah baru kepada ‘Ikrimah. Surat itu dimulai dengan sapaan keras, “Wahai anak dari ibunya ‘Ikrimah!” (Sapaan seperti ini adalah sebuah sapaan sopan untuk menunjukkan keraguan tentang siapa bapak dari orang yang disapa!) “Jangan tampakkan wajahmu padaku. Kepulanganmu dalam kondisi sedemikian akan melemahkan hati rakyat. Berangkatlah bersama pasukanmu ke Oman untuk membantu Hudzayfah. Setelah Hudzayfah menyelesaikan tugasnya, berangkatlah ke Mahra untuk membantu ‘Arfajah; dan setelah itu, berangkatlah ke Yaman untuk membantu Muhajir. Aku tidak akan berbicara denganmu sampai engkau menunjukkan kepatuhanmu dalam tugas-tugas ini.”[2] Ketiga jenderal yang akan ia bantu ini, termasuk di antara 11 panglima korps.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Mukhtasar Siratur Rasul Shallallahu ’alayhi wasallam karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 504 dan 509 
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

‘Ikrimah pun membawa korpsnya melewati Yamamah menuju Oman dengan penuh rasa kesal setelah kekalahan memalukan di tangan Musaylimah dan ditegur dengan keras oleh Khalifah.

Syurahbil menggantikan posisinya di Yamamah. Untuk memastikan agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama dengan ‘Ikrimah, Abu Bakr menulis surat kepadanya, “Tetaplah di lokasimu dan tunggu instruksi selanjutnya.”[1]

Setelah menyelesaikan pembayaran diyat kepada ahli waris Malik bin Nuwayrah, Khalifah memanggil Khalid dan memberikan perintah untuk menghancurkan pasukan Musaylimah Sang Pendusta di Yamamah. Sebagai tambahan kekuatan bagi korpsnya yang juga cukup besar, Khalid juga akan memegang komando Korps Syurahbil. Sejumlah pasukan Anshar dan Muhajirin berhasil dikumpulkan oleh Abu Bakr di Madinah dan pasukan ini juga dikirim untuk memperkuat pasukan Khalid. Demikianlah Khalid memegang komando tentara utama Negara Islam.

Khalid berangkat ke Butah, tempat korpsnya menunggu. Sementara itu, Khalifah menulis surat lagi kepada Syurahbil berisi, “Engkau akan berada di bawah komando Khalid ketika ia bergabung denganmu. Setelah permasalahan di Yamamah selesai, engkau dengan pasukanmu harus bergabung dengan ‘Amru bin Al-‘Ash dan memerangi Quza’ah.”[2] Suku Quza’ah adalah suku murtad yang telah dikalahkan oleh Usamah di perbatasan Syam, tetapi mereka belum ditaklukkan dan membangun kekuatan kembali.

Khalid menetap di Butah sampai kedatangan pasukan tambahan dari Madinah, kemudian ia berangkat menuju Yamamah. Ia senang dengan tambahan pasukan baru dari Syurahbil juga akan bergabung. Ia akan memimpin pasukan tersebut, tetapi ternyata mereka bukan lagi pasukan yang masih segar. Beberapa hari sebelum tibanya Khalid, Syurahbil juga tergiur dengan godaan kebanggaan kemenangan, seperti halnya ‘Ikrimah. Ia maju berperang dengan Musaylimah. Merasa menyesal dengan tindakannya ini, Syurahbil menyatakan permohonan maafnya kepada Khalid yang menegurnya dengan keras.

Khalid masih agak jauh dari Yamamah ketika pengintainya membawa kabar bahwa Musyalimah berkemah di dataran Aqraba` di utara Wadi Hanifah, tepat di jalur menuju Yamamah. Karena ia tidak ingin mendekati pasukan musuh dari lembah, Khalid keluar dari jalur normal beberapa km di barat Aqraba`, berbelok ke selatan dan keluar di tanah tinggi, satu mil (1.61 km-pent) di selatan sebuah wadi di seberang Kota Jubayla.[3] Dari tanah tinggi ini, Khalid dapat melihat keseluruhan dataran Aqraba`. Di ujung seberang mereka, terbentanglah perkemahan Bani Hanifah. Khalid mendirikan kemahnya di tanah tinggi ini. Kekuatan pasukannya adalah 13.000 prajurit.

Pengintai-pengintai Musaylimah pun sudah memberinya kabar tentang kedatangan tentara utama Muslim beberapa hari sejak Khalid meninggalkan Butah. Rute dari Butah menuju Yamamah harus melalui Wadi Hanifah dan di tepi utara wadi ini, di belakang Jubayla, terbentanglah dataran Aqraba` yang menandai batas terluar daerah subur dari Aqraba` sampai Yamamah, lalu terus ke tenggara. Daerah ini adalah daerah pertanian, perkebunan, dan lahan olahan. Yamamah sendiri secara akurat adalah sebuah provinsi dengan ibukotanya di Hijr yang juga dikenal dengan sebutan Yamamah. Kota tua Al-Hijr sendiri ada di tempat yang sama dengan Kota Riyadh modern.[4]

Musaylimah tidak ingin membiarkan Pasukan Muslim menghancurkan perkotaan dan pedesaannya. Oleh karena itu, ia membawa pasukannya maju ke Jubayla, 25 mil (40 km-pent) di barat laut Yamamah. Ia mendirikan perkemahan baru di dekat Jubayla, tepat di lokasi perbatasan dataran Aqraba`. Dari lokasi ini, Musaylima tidak hanya bisa melindungi dataran subur Yamamah, tetapi juga mengancam rute serangan Khalid. Jika Khalid membuat kesalahan dengan maju melalui Wadi Hanifah, Bani Hanifah akan berada di sayap kiri mereka. Dan Khalid tidak bisa menghindari pertempuran di sini untuk maju langsung ke Yamamah karena hal ini akan membuat Musaylimah berada di belakang mereka. Prinsip ini sama dengan prinsip yang diterapkan oleh nabi yang mulia pada Pertempuran Uhud.

Musaylimah siap untuk bertempur di dataran Aqraba` dengan 40.000 prajuritnya yang tidak sabar untuk beraksi. Dua keberhasilan dalam memukul mundur ‘Ikrimah dan Syurahbil setidaknya memompa rasa percaya diri mereka serta memberikan suatu aura kharisma di sekitar diri Sang Pendusta. Prajuritnya telah siap untuk mengorbankan diri untuk melindungi pemimpin mereka dan apa yang ia perjuangkan. Dan Musaylimah sangat yakin bahwa ia akan menimpakan hukuman yang sama terhadap Khalid seperti halnya ia mengalahkan dua panglima pendahulunya.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 522.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 509.
[3] Jubayla saat ini adalah sebuah desa kecil. Menurut tradisi lokal, desa ini dahulunya adalah kota besar.
[4] Pedesaan Yamamah yang berada sekitar 50 mil (80 km-pent) di tenggara Riyadh, di dekat Al-Kharj, bukanlah tempat yang sama dengan Yamamah di masa sejarah; bukan merupakan Yamamah yang menjadi lokasi pertempuran ini.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Beberapa hari sebelum Khalid tiba, Musaylimah kehilangan salah satu panglima terbaiknya, yaitu sang kepala suku, Muja’ah bin Mararah, salah satu utusan delegasi Bani Hanifah kepada nabi yang mulia. Orang ini memimpin 40 orang berkuda untuk menyerbu satu suku tetangga yang merupakan musuh lama mereka. Dalam perjalanan pulang setelah serbuan selesai, kelompoknya bermalam di sebuah celah bernama Saniyatul Yamamah, berjarak satu hari perjalanan dari Aqraba`. Muja’ah dan prajuritnya tidur dengan pulas, tetapi tidur itu akan menjadi tidur terakhir mereka karena pada pagi harinya, kesemua kelompok ini ditangkap oleh salah satu detasemen berkuda terdepan dari pasukan Khalid. Para murtad ini dibawa menghadap Pedang Allah.

Khalid mencecar pertanyaan mengenai keimanan mereka. Kepada siapa mereka beriman? Apakah kepada Muhammad atau kepada Musaylimah? Tanpa ragu, mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki keinginan bertobat. Beberapa di antara mereka bahkan memberi tanggapan berupa saran, “Terimalah bahwa ada seorang nabi dari kalian dan ada seorang nabi dari kami!”[1] Khalid tidak mau membuang waktunya dengan sampah-sampah ini, ia memerintahkan agar mereka semua dipenggal, kecuali Muja’ah, pemimpin mereka, yang diikat sebagai tawanan. Ia adalah seorang pemimpin terkemuka dan kemungkinan akan berguna sebagai seorang tawanan. Dengan tetua suku dalam rombongan, tentara Muslim tiba di dekat Aqraba` dan mendirikan kemah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kedua pasukan sekarang telah siap untuk bertempur.

Lokasi aktual lembah dari Wadi Hanifah menandari medan pertempuran. Di sisi utara medan pertempuran, tanahnya naik 100 kaki (30 m-pent), ada beberapa bagian yang naik secara landai, ada beberapa bagian yang naik dengan curam, dan sisanya benar-benar naik vertikal. Di bagian selatannya, tanah naik sedikit demi sedikit sampai setinggi 200 kaki (61 m-pent), satu mil (1,61 km-pent) dari tempat Khalid mendirikan perkemahan. Di tepi utara, juga terdapat Kota Jubayla dan di tepi barat kota ini, sebuah sungai kecil bermuara di wadi. Garis depan pasukan Muslim berada di tepi selatan sepanjang 3 mil (4,82 km-pent), sedangkan di tepi utara, berdirilah pasukan murtad. Perkotaan dan sungai kecil menandai bagian tengah pasukan Musaylimah. Di belakang mereka adalah dataran Aqraba` dan di dataran ini, sekitar 2 mil (3,2 km-pent) dari wadi, berdiri sebuah kebun luas berdinding yang dikenal dengan nama Abaz. Kelak sebagai hasil pertempuran ini, kebun ini akan dikenal dengan nama baru, “Kebun Kematian”.[2] (Lihat Peta 9 di bawah)



Pada keesokan paginya, kedua pasukan berbaris untuk bertempur. Musaylimah menyusun 40.000 prajuritnya dengan sebuah pasukan tengah, satu sayap kiri, dan satu sayap kanan. Sayap kiri dipimpin oleh Rajjal, si pengkhianat. Sayap kanan dipimpin oleh Muhakim bin Tufayl, dan pasukan tengah langsung dipimpin oleh Sang Pendusta. Untuk memperkuat kebulatan tekad prajuritnya, anak Musaylimah yang juga bernama Syurahbil, maju ke depan semua resimen sambil memberikan pidato penyemangat, “Wahai Abu Hanifah, bertempurlah hari ini dengan harga diri kalian. Jika kalian kalah, perempuan-perempuan kalian akan diperbudak dan dinikmati oleh musuh. Bertempurlah untuk melindungi perempuan kalian!”[3]

Musaylimah memutuskan untuk menunggu serangan Khalid. Ia berencana untuk memulai dengan bertahan dan kemudian menyerang setelah menumpulkan serangan musuh dan memukul mundur mereka.

Pasukan Muslim menghabiskan malam mereka dengan shalat. Musuh kali ini adalah musuh terbesar dan paling fanatik yang pernah mereka hadapi. Panglimanya juga adalah orang paling buruk dan licik di antara manusia. Setelah Shalat Shubuh, Khalid menyusun 13.000 prajuritnya di tepi selatan. Ia juga menyusun pasukannya dengan sebuah pasukan tengah dan dua sayap. Sayap kiri dipimpin oleh Abu Hudzayfah, sayap kanan oleh Zayd (kakak laki-laki ‘Umar), dan pasukan tengah langsung di bawah komando Khalid. Dalam pertempuran ini, Khalid tidak membagi satuan-satuan pasukannya dalam kelompok suku seperti kebiasaan sebelumnya. Ia membaginya dalam resimen-resimen dan sayap-sayap sesuai kebutuhan pertempuran. Prajurit dari satu suku akan bercampur dengan suku-suku lainnya.

Khalid seperti biasanya menyusun rencana untuk melakukan serangan seawal mungkin, memaksa musuh agar bertahan secara terus-menerus. Tujuannya adalah membuat Musaylimah tidak memiliki kesempatan untuk bermanuver dan hanya bisa melakukan reaksi terhadap tusukan pasukan lawan. Namun Khalid sadar akan beratnya pekerjaan Pasukan Muslim. Ia paham bahwa pertempuran ini akan menjadi sangat sengit dan lebih berdarah dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran yang pernah tentara Islam hadapi. Pemberontak unggul satu banding tiga dalam segi jumlah dan mereka dipimpin oleh seorang jenderal cerdas dan pemberani. Namun Khalid yakin bahwa ia akan menang. Khalid sangat percaya pada diri dan kemampuannya, serta pada keberanian para perwira dan prajuritnya. Saat ia berada di depan pasukannya, ia melihat dengan rasa bangga dan rasa yakin pada mereka. Ada sejumlah orang-orang terkenal di dalam pasukannya dan beberapa di antara mereka, juga ada yang kelak akan menjadi terkenal, contohnya Zayd, kakak laki-laki ‘Umar, dan Abdullah, anak ‘Umar. Ada juga Abu Dujanah yang pada Pertempuran Uhud melindungi nabi yang mulia dari panah dengan tubuhnya sendiri. Di pasukannya juga ada anak Khalifah, yaitu Abdurrahman. Ada Muawiyah, anak Abu Sufyan, yang kelak akan menjadi khalifah pertama Dinasti Umayyah. Ada Ummu Ammarah, perempuan yang bertempur di sisi nabi dalam Pertempuran Uhud. Ia bersama dengan anak laki-lakinya kali ini. Dan terakhir, Wahsy Si Barbar juga hadir dengan lembingnya yang mematikan.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 510.
[2] Lokasi pasti Kebun Kematian tidak diketahui. Saya memperkirakan lokasinya berdasarkan proses jalannya pertempuran.
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 509.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57998362947868d7218b456b/229/-

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (32) Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah


Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
(Halaman 1)

“Kami dahulu seperti teman minum-minumnya Jadzimah
untuk beberapa lama, sampai-sampai dikatakan, kami tidak akan berpisah.
Kami menghabiskan waktu terbaik hidup kami, tetapi di hadapan kami,
kematian telah menghancurkan bangsa Kisra dan Tubba’.
Ketika kami berpisah, seakan-akan Malik dan aku,
meski telah lama bersama, tidak pernah bertemu meskipun hanya semalam.”
[Mutammim bin Nuwayrah, berduka karena kematian saudaranya, Malik.][1]

Setelah menyelesaikan urusannya dengan Salmah dan para pengikutnya, Khalid memberi perintah kepada pasukannya untuk berangkat ke Butah untuk menghadapi Malik bin Nuwayrah. Ia sama sekali tidak mengira bahwa pasukannya sendiri akan menentang rencananya ini. Persiapan untuk berangkat dilaksanakan sesuai perintah, tetapi ketika waktu keberangkatan tiba, sekelompok besar prajuritnya menolak untuk berangkat.

Mereka adalah para Anshar. Petinggi-petinggi mereka datang menemui Khalid dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berangkat ke Butah. Mereka menyatakan, “Apa yang engkau rencanakan sekarang tidak termasuk dalam instruksi-instruksi Khalifah. Instruksinya adalah untuk bertempur di Buzakha dan membebaskan daerah di sekitarnya dari kemurtadan. Setelah itu, kita akan menunggu instruksi lanjutannya.”

Khalid terkejut dengan pernyataan ini. Ia tidak ingin membiarkan kelompok ini untuk menghalangi rencana yang menurutnya tepat meskipun mereka adalah sekelompok Sahabat (Nabi-pent) yang sangat dihormati. Ia menjawab, “Itu mungkin instruksi Khalifah kepada kalian, tetapi instruksinya kepadaku adalah untuk memerangi kaum kafir. Dalam kondisi apapun, saya adalah panglima pasukan ini. Saya mengetahui informasi yang lebih lengkap daripada kalian. Jika saya melihat suatu kesempatan meskipun hal itu tidak diinstruksikan secara spesifik, saya tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Akankah ketika kita dihadapkan dengan ancaman meskipun tidak ada instruksi khusus dari Khalifah, apakah kita akan membiarkannya begitu saja? Malik bin Nuwayrah ada di sana dan saya akan memeranginya. Cukup para Muhajirin dan mereka yang berkeinginan, untuk mengikutiku. Mereka yang tidak mau, aku tidak akan memaksakan hal ini.”[2]

Khalid berangkat tanpa para Anshar.

Belum sampai satu jam berlalu, Anshar menyadari kesalahan serius mereka dalam menolak perintah berangkat bersama korps. Salah seorang dari mereka berkata, “Jika mereka berhasil, kita akan mendapat bagian.” Salah seorang yang lain menambahkan, “Dan jika mereka gagal, tidak seorang pun akan mau berbicara dengan kita lagi.” Mereka dengan segera memutuskan. Mereka mengirim seseorang yang memiliki kendaraan cepat untuk menemui Khalid untuk mengatakan, “Tunggu! Kami ikut berangkat.” Khalid pun menunggu sampai mereka bergabung dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Butah.

Sekitar pekan pertama November 632 M (pertengahan Sya’ban 11 H), Khalid tiba di Butah dan bersiap untuk bertempur. Tetapi Butah tidak mempersiapkan diri untuk melawan. Tidak seorang prajurit musuh pun tampak di sana.

Ketika Sajah sang nabiyah palsu meninggalkan Arabia menuju Iraq, Malik bin Nuwayrah mulai meragukan keputusannya untuk ikut serta dalam konspirasi melawan Islam. Ia menerima laporan tentang bagaimana Pedang Allah telah menghancurkan pasukan Thulayhah. Ia juga mendengar bagaimana hukuman berat yang dijatuhkan Khalid kepada para kriminal pembunuh Muslimin. Malik ketakutan. Dengan perginya Sajah, ia kehilangan sekutu yang kuat. Ia merasa telah ditinggalkan dan dikhianati.

Ia mulai menyadari betapa serius keputusannya untuk membuat perjanjian dengan sang nabiyah palsu. Rasa penyesalannya pada kemurtadan sangat jelas dan tidak bisa dibantah. Malik adalah seorang pemberani, tetapi ia merasa tidak sanggup untuk memerangi Khalid.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Dar Abi Hayyan, Kairo, Edisi I. 1416/1996, Vol. 6 hlm.394.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 501. Dari percakapan ini, terlihat bahwa keputusan Khalid untuk berangkat ke Butah adalah keputusannya sendiri dan tidak termasuk dalam rencana yang dibuat oleh Khalifah, tetapi menurut Ath-Thabari (Vol.2, hlm. 480 dan 483), instruksi Abu Bakr kepada Khalid dengan jelas termasuk untuk memerangi Malik bin Nuwayrah di Butah setelah urusan dengan Thulayhah telah diselesaikan. Kemungkinan, prajurit-prajurit yang menolak berangkat tidak mengetahui bahwa Khalifah telah memberikan arahan ini kepada komandan mereka. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Merasa tidak berdaya dan ditinggalkan sekutunya, Malik memutuskan untuk menyelamatkan apa yang bisa ia selamatkan. Ia bermaksud untuk menebus kesalahannya dengan bertobat dan menyerahkan diri, suatu tindakan yang harus ia lakukan secara politis karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain dari hal tersebut. Malik mengumpulkan anggota klannya dari Bani Yarbu’ dan mengumumkan kepada mereka,

“Wahai Bani Yarbu’! Kita telah mengabaikan pemerintah kita ketika kita diajak untuk tetap bertahan dalam keimanan. Dan kita juga telah mencegah orang lain untuk taat pada mereka. Kita telah melakukan hal yang buruk. Aku telah mempelajari situasi saat ini. Aku menilai bahwa situasi saat ini berpihak kepada mereka sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa. Janganlah kalian melawan mereka! Pulanglah ke rumah kalian dan berbuat baiklah pada mereka.”[1]

Dengan perintah ini, prajuritnya bubar. Malik kemudian pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Butah, kembali kepada istrinya, Layla, yang cantik menawan.

Satu tindakan lagi Malik lakukan untuk menunjukkan perubahan hatinya. Ia mengumpulkan semua zakat dan mengirimnya kepada Khalid yang sedang dalam perjalanan menuju Butah ketika utusannya bertemu dengan Khalid. Khalid mengambil zakat tersebut, tetapi tidak menganggapnya sebagai bentuk tobat dan penyesalan yang cukup karena pengiriman zakat adalah memang sebuah kewajiban.

Khalid bertanya kepada utusan Malik, “Apa yang membuat kalian bersekutu dengan Sajah?” Utusan-utusan itu menjawab, “Tidak lebih dari keinginan untuk membalas dendam kepada suku-suku musuh.”[2]

Khalid tidak bertanya lebih jauh, tetapi ia tetap dalam kecurigaan. Bisa jadi, ini adalah trik untuk membuatnya lengah dan untuk memancingnya pada sergapan tiba-tiba. Sejak ia disergap di Hunayn, Khalid tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya. Ia terus maju dengan standar militer bersiap menghadapi perlawanan musuh bersenjata.

Khalid tiba di Butah yang tidak memiliki pertahanan maupun prajurit. Tidak ada pasukan yang hendak mereka perangi. Ia menaklukkan Butah dan mengirim sejumlah detasemen kavaleri untuk menyisir ke wilayah sekitar untuk mencari klan-klan murtad dari Bani Tamim. Kepada setiap komandan detasemen ini, ia mengulangi instruksi Khalifah: ketika bertemu suatu klan, mereka akan memanggil dengan adzan; jika klan itu memenuhi panggilan adzan, klan itu akan dibiarkan; jika tidak, klan itu akan diserang.

Pada keesokan jarinya, satu detasemen yang dikomando oleh Dhirar bin Al-Azwar menemukan rumah Malik bin Nuwayrah. Dhirar menangkap Malik dan Layla, beserta sejumlah orang dari Bani Yarbu’. Detasemen-detasemen lain tidak menemui masalah karena semua klan menyerah tanpa perlawanan.

Malik dan Layla dibawa menghadap Khalid. Malik dihadapkan dalam pengadilan sebagai pemimpin pemberontak dan pemimpin murtad atas perbuatan kriminalnya melawan Negara dan Islam. Penampilannya terlihat menantang, sesuai dengan kondisinya sebagai bangsawan sukunya. Ia menghadapi pengadilannya dengan martabat seorang bangsawan. Ia tidak bisa merendahkan dirinya di hadapan siapa pun.

Khalid mulai berbicara. Ia menyampaikan perbuatan-perbuatan kriminal yang telah Malik lakukan dan kerusakan apa saja yang telah ia sebabkan kepada Islam. Kemudian Khalid mengajukan beberapa pertanyaan. Dalam jawabannya, Malik memanggil nabi yang mulia sebagai “pemimpinmu”. Khalid murka dengan perilaku terdakwa yang angkuh dan tidak menunjukkan rasa penyesalan. Khalid berkata, “Tidakkah engkau menganggap dirinya sebagai pemimpinmu?”[3]

Khalid merasa yakin bahwa Malik telah bersalah, tidak bertobat, dan tetap dalam kekafiran. Ia memberikan perintah eksekusi mati. Dhirar membawa Malik pergi dan melakukan sendiri eksekusi mati tersebut. Demikianlah akhir hayat Malik bin Nuwayrah.

Layla pun menjadi janda muda, tetapi tidak dalam waktu lama. Malam itu juga, Khalid menikahinya! Belum sempat ia berduka atas meninggalnya suaminya ketika ia menjadi pengantin kembali, kali ini dengan Pedang Allah!

Ketika Khalid mengumumkan keinginannya untuk menikahi Layla, sejumlah Muslim tidak bisa menganggap enteng permasalahan ini. Beberapa orang di antara mereka bahkan mengira bahwa Malik telah masuk Islam kembali dan Khalid memerintahkan hukuman mati dengan tujuan agar dapat menikahi Layla. Salah seorang yang terpandang dari golongan Sahabat (nabi-pent), yaitu Abu Qatadah, memprotes langsung kepada Khalid, tetapi Khalid menjawabnya dengan argumen yang cukup kuat. Merasa diabaikan dan marah atas apa yang ia anggap sebagai tindakan sewenang-wenang dari Khalid, Abu Qatadah memacu kudanya secepat mungkin menuju Madinah pada keesokan harinya. Sesampainya di ibukota, ia langsung menemui Abu Bakr dan mengabarkan bahwa Malik bin Nuwayrah adalah seorang Muslim dan Khalid telah membunuhnya agar dapat menikahi Layla yang cantik. Abu Qatadah juga adalah orang yang sama yang dahulu memberi laporan dan pengaduan kepada nabi bahwa Khalid telah dengan kejam membunuh Bani Jadzimah meskipun mereka menyerah, sesaat setelah Penaklukan Makkah. Celaannya kepada Khalid bukan hal yang baru.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 501-502.
[2] Ibid.
[4] Ibid: Vol.2, hlm. 504.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Namun Abu Bakr tampak tidak senang melihat Abu Qatadah yang meninggalkan posnya tanpa persetujuan panglimanya. “Kembalilah ke posmu!” perintah Khalifah dan Abu Qatadah pun kembali ke Butah.[1]

Tetapi sebelum Abu Qatadah pergi, informasi darinya telah tersebar di Madinah. ‘Umar yang mendengar kabar ini dengan segera menemui Abu Bakr. ‘Umar berkata kepada Khalifah, “Engkau telah menunjuk seorang panglima yang membunuh Muslim dan membakar orang hidup-hidup.”[2] Abu Bakr tidak terkesan. Ia mengetahui dengan pasti bahwa Malik tidak mengirimkan kewajiban zakat dari klannya ketika mendengar berita wafatnya nabi, begitu juga dengan informasi bahwa ia bersekutu dengan Sajah. Tidak diragukan lagi bahwa Malik telah murtad. Tentang hukuman bakar hidup-hidup, Khalifah sendiri yang memerintahkan bahwa orang-orang murtad yang membakar Muslim harus dihukum dengan cara yang sama.[3] Khalid tidak melakukan hukum bakar secara serampangan.

‘Umar melanjutkan, “Ada kedzhaliman pada pedang Khalid. Ia harus dibawa pulang dalam keadaan dibelenggu. Pecat orang ini!”

Abu Bakr paham bahwa ada sedikit rivalitas antara kedua laki-laki besar ini. Ia menjawab dengan tegas, “Wahai ‘Umar, jaga lidahmu dari mencela Khalid. Saya tidak akan menyarungkan kembali pedang yang telah Allah hunuskan terhadap para kafir.” Saat itu, Khalid sudah secara umum dipanggil sebagai Pedang Allah.

‘Umar bersikeras, “Tetapi musuh Allah ini telah membunuh seorang Muslim dan mengambil istrinya!”[4] Abu Bakr akhirnya mengikuti kemauan ‘Umar. Ia memanggil Khalid.

Saat itu, Khalid telah mengetahui bahwa penentangan terhadap perbuatannya ini telah tersebar. Ia pasrah dan hal ini terlihat dari kata-katanya, “Ketika Allah menetapkan sesuatu, pastilah itu akan terjadi.”[5] Bagaimanapun juga, sebuah kritik kecil tidak membuat Khalid khawatir. Kemudian, datanglah panggilan Khalifah kepadanya untuk pulang ke Madinah. Khalid mengira bahwa panggilan ini terkait tuduhan kepada dirinya dan ia pun mulai merasa khawatir.

Setibanya ia di Madinah, Khalid langung berjalan menuju masjid. Di masa tersebut, masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah. Masjid juga adalah ruang rapat, tempat pertemuan, sekolah, tempat beristirahat, dan pusat kegiatan pemerintahan. Khalid memakai sorban yang berhiaskan anak panah. Penampilan ini membuatnya terlihat agak mewah, berbeda dengan kebanyakan Muslim yang memilih untuk lebih sederhana dalam berpakaian dan menghindari segala bentuk yang menunjukkan kesombongan.

‘Umar berada di masjid dan melihat Khalid. Dengan wajah memerah marah, ia berjalan ke arah Khalid, mematahkan hiasan anak panah di sorbannya. ‘Umar membentaknya, “Engkau telah membunuh seorang Muslim dan mengambil istrinya. Engkau seharusnya dirajam.”[6] Khalid paham bahwa ‘Umar memiliki pengaruh besar dalam kebijakan Abu Bakr. Khawatir bahwa Khalifah memiliki pendapat yang sama, ia pergi dan tidak meladeni ‘Umar.

Ia kemudian menemui Abu Bakr yang langsung meminta penjelasan darinya. Khalid menyampaikan keseluruhan laporannya. Setelah menimbang dan menilai kondisinya, Khalifah memutuskan bahwa Khalid tidak bersalah. Namun, ia menegur keras jenderalnya karena menikahi Layla. Dan karena masih ada kemungkinan kesalahan dari sisi Khalid, Abu Bakr tetap memerintahkan pembayaran uang diyat kepada ahli waris Malik.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 501-502.
[2] Baladzuri: hlm. 107.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 482.
[4] Ibid: Vol.2, hlm. 503-504; Baladzuri: hlm. 107.
[5] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 502.
[6] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 504. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 4)

Khalid keluar dari rumah Khalifah. Langkahnya ringan dan lepas dari beban pikiran, ia berjalan menuju masjid di mana ‘Umar duduk bercengkerama dengan sejumlah sahabatnya. Kali ini, Khalid memiliki pijakan lebih kuat dan merasa bisa menjawab dalam argumen. Ia memanggil ‘Umar, “Kemarilah, wahai Kidal!”[1] ‘Umar segera paham bahwa Khalifah telah membebaskan Khalid dari tuduhan. Ia berdiri dan tanpa berkata-kata, langsung pulang ke rumahnya.

Permasalahan Malik dan Layla ini telah menjadi bahan perselisihan dalam sejarah Muslim. Beberapa dari mereka mengutip sumber seperti Abu Qatadah yang mengatakan bahwa keluarga Malik telah mengumandangkan adzan dan bahwa Malik telah kembali masuk Islam sebelum ia ditahan. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Khalid tidak pernah memerintahkan hukuman mati pada Malik, tetapi karena cuaca saat itu dingin dan Khalid mengatakan kepada prajuritnya, “Hangatkanlah tawananmu,” perintah ini dimaknai berbeda oleh Dhirar yang mengira bahwa dalam beberapa dialek Arab, “menghangatkan” memiliki makna konotasi “membunuh”.

Versi-versi ini, dari berbagai kemungkinan yang ada, tidaklah benar. Kedua pendapat ini telah ditawarkan oleh dua pihak: pihak pertama yang ingin menjelaskan penentangan ‘Umar kepada Khalid dan pihak kedua yang ingin membersihkan nama Khalid dari tuduhan kemungkinan bersalah dalam membunuh seorang Muslim.

Tidak ada keraguan dalam hal kemurtadan dan pemberontakan Malik bin Nuwayrah, penolakannya membayar zakat, persekutuannya dengan Sajah, dan partisipasi prajurit pengikutnya dalam aksi militer Sajah. Semua sejarawan tanpa kecuali melaporkan kejadian ini. Tidak ada keraguan juga dalam pikiran penulis bahwa Khalid memerintahkan hukuman mati kepada Malik dan ia melakukannya dengan niat jujur dan murni karena keterlibatan Malik dalam kemurtadan dan pemberontakan. Tetapi kecurigaan terus tersembunyi dalam benak sejumlah orang Arab, salah satunya ‘Umar, bahwa putusan hukuman tersebut dipengaruhi keinginan pribadi. ‘Umar juga semakin diyakinkan dengan pendapat ini oleh saudara laki-laki Malik yang datang mengunjunginya dan mengabarkan kepadanya bahwa Malik adalah seorang yang sangat baik dan betapa tragisnya ia jatuh menjadi korban hawa nafsu Khalid!

Intinya, Malik dihukum mati dan Layla yang cantik, bermata dan berkaki indah, menjadi istri Khalid bin Al-Walid. Suatu hari, ia akan membayar mahal untuk kebahagiaannya ini!

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 504. 

--Akhir dari Bab 15--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5796fbbddc06bdeb0f8b456b/226/-