Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2017

DUNIA DI MATA HASAN AL-BASHRI


Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:

Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lagi tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yag tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah dunia hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,

‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:
“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

(Perjalanan hidup khalifah yg agung Umar bin Abdul Aziz)

sumber

Senin, 02 Januari 2017

Kalau Ia Berdoa Pasti Dikabulkan


Bismillah, alhamdulillah washolatu wasallam ‘ala rasulillah amma ba’ad.

Di dalam Shahih Muslim, Usair bin Jabir meriwayatkan bahwa setiap datang masyarakat rombongan Yaman, Khalifah Umar bin Khathab radiallahu anhu selalu bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?”

Ada apa sebenarnya dengan Uwais? Mengapa orang sehebat Umar bin Khathab bertanya tentang Uwais? Kita lihat bagaimana selanjutnya kisah ini.

Begitu Uwais datang, Umar berkata, “Apakah kamu Uwais bin Amir?”

Uwais menjawab, “Iya benar.”

Umar bertanya lagi untuk meyakinkan, “Apakah kamu berasal dari masyarakat Murat kemudian masyarakat Qaran?”

Uwais menjawab, “Iya.”

Kemudian Umar bertanya lagi, “Dulu kamu pernah punya sejarah sakit, berubah warna kulitnya kemudian sembuh tapi tersisa hanya sebesar uang dirham dan masih ada bekasnya?”

Uwais menjawab, “Ya.”

Kemudian Umar masih bertanya lagi untuk meyakinkan, “Kau punya seorang ibu?”

Kemudian Uwais menjawab, “Ya.”

Barulah Umar yakin dengan semua data yang ditanyakan. Ternyata, Uwais al-Qarni ini telah disebut-sebut oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau masih hidup.

Padahal Uwais tidak pernah bertemu dengan Rasulullah ﷺ tentang barokahnya Uwais ini. Rasulullah sampai berkata, “Akan datang kepada kalian, seseorang bernama Uwais ibn Amir bersama rombongan masyarakat Yaman. Dia berasal dari Murat kemudian dari Qaran. Dia pernah sakit kemudian berubah warna kulitnya, dan ketika sembuh yang tersisa hanya sebesar dirham. Dia punya seorang ibu, betapa baktinya Ia kepada ibunya.”

Ternyata semua yang ditanyakan Umar, itulah kalimat Nabi. Umar ingin memperjelas data ini, benarkah data ini? Kalau memang benar, maka benarlah ia Uwais ibn Amir.

Apa istimewanya Uwais?

Rasul ﷺ melanjutkan, “Kalau ia bersumpah Demi Allah, Allah akan penuhi  permintaannya.” Subhanallah. Ada orang yang kalau dia berdo’a dan bermunajat, pasti Allah kabulkan. Selanjutnya Nabi ﷺ mengatakan, “Kalau ada di antara kalian yang bisa mendapatkan do’a ampunan dari Uwais, maka mintalah.”

Maka Umar bin Khattab bertanya tentang Uwais itu untuk meminta do’a ampunan ini, karena pasti dikabulkan. Semua permintaan Uwais pasti dikabulkan oleh Allah subhana wa ta’ala. Maka Umar berkata, “Mohonkan ampun untuk saya.” Maka Uwais pun memohonkan ampun. Dan begitulah Uwais al-Qorni.

Kemudian, bahkan di tahun berikutnya ketika ada rombongan Yaman lagi, Umar masih bertanya, “Uwais ada tidak bersama kalian?”

Ternyata dijawab, “Uwais tidak punya bekal sehingga dia tidak ikut bersama kami.”

Dan kemudian orang itu bertanya, “Mengapa kamu bertanya tentang Uwais?”

Kemudian Umar menyampaikan hadist Nabi tentang Uwais tadi. Begitu orang itu pulang, orang  itu meminta agar dido’akan, dimohonkan ampun oleh Uwais.

Uwais berkata, “Kamu yang baru pulang dari perjalanan mulia yaitu perjalanan haji, maka kamu yang mendo’akan saya.”

Orang yang baru pulang haji berkata, “Tidak, kaulah yang mendo’akan aku. Do’akan aku.”

Kemudian akhirnya Uwais bertanya, “Pasti kamu bertemu Umar?”

Dia berkata, “Iya.”

Maka kemudian Uwais mendo’akannya. Subhanallah, ini orang yang mahal. Perlu kita catat dan digaris tebal ini bahwa ini orang yang mahal untuk zaman seperti ini. Ketika nyaris rasanya sulit mencari orang yang do’anya langsung didengar Allah subhana wa ta’ala karena terlalu banyak memasukkan barang yang haram. Maka kalau hari ini ada yang do’anya langsung didengar oleh Allah subhana wa ta’ala, betapa mahalnya orang itu. Dan ternyata salah satu cara untuk menjadi orang barokah seperti Uwais, sehingga do’anya selalu didengar oleh Allah subhana wa ta’ala adalah kalimat Rasul: Bahwa Uwais mempunyai ibu dan betapa baktinya ia kepada ibunya. Berbaktilah kepada kedua orangtua agar hidup kita diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala, sehingga setiap kita meminta, Allah pasti akan mengabulkannya.

Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua.

Wallahu ta’ala ‘alam bishowab.


Artikel ini merupakan transkripsi dari podcast audio Serial Berkah bersama Ust. Budi Ashari, Lc. Versi audio bisa didapatkan langsung di HP/gadget anda dengan bergabung ke Channel Telegram Siroh Nabawiyyah (@sirohnabawiyyah).

Kamis, 29 Desember 2016

Kisah Al Baqillani vs Paus


(Serial Sapa Pagi Budi Ashari)

Al Baqillani –rahimahullah- salah seorang ulama Malikiyyah yang sangat cerdas. Berasal dari Irak. Ahli dalam berbagai ilmu dan dengan kemampuan dialog seorang filsuf.

Suatu hari khalifah muslimin mendapatkan surat dari raja Romawi. Raja Romawi meminta agar dikirimkan orang paling berilmu di kalangan muslimin. Khalifah segera bertanya di majlis kekhilafahan, tentang siapa orang yang layak untuk berdialog dan menjawab semua pertanyaan orang sekelas raja Romawi.

Salah seorang di majlis itu mengusulkan nama seorang anak muda yang bernama Abu Thayyib Al Baqillani. Khalifah pun mengutusnya.

Begitu Al Baqillani sampai di Romawi dia menghadap ke istana raja. Sang raja merencanakan sejak awal pertemuannya untuk menjatuhkan utusan muslimin ini. Maka sang raja duduk di singgasananya. Persis di hadapan singgasana raja ada pintu besar yang akan digunakan untuk Al Baqillani. Dalam pintu besar itu ada pintu kecilnya. Pintu besarnya ditutup dan yang dibuka adalah pintu kecilnya. Sehingga yang akan memasukinya pasti akan menundukkan kepalanya. Dan di hadapannya langsung raja nasrani.

Al Baqillani yang mengetahui hal tersebut, jiwanya tidak menerima diperlakukan dengan cara itu. Harus menunduk di hadapan raja nasrani (Subhanallah...IZZAH ayyuhal muslimun!!!). Maka Al Baqillani pun masuk dengan pantatnya terlebih dahulu.

Majlis pun dimulai oleh sang raja, “Saya dengar menurut agama kalian, bulan pernah terbelah untuk Rasul kalian?”

Al Baqillani menjawab, “Benar!”

Raja, “Apakah kalian punya hubungan khusus dengan bulan, sehingga bulan hanya terbelah untuk kalian tapi tidak terjadi pada umat sebelum kalian?”

Al Baqillani menjawab, “Bagaimana dengan Al Maidah (hidangan makanan) yang turun dari langit untuk Isa, apakah kalian juga punya hubungan khusus dengannya sehingga tidak diketahui oleh masyarakat manapun, kecuali kalian?”

Beberapa permasalahan dibahas dalam sidang itu. Tidak ada satupun ahli ilmu di sidang raja yang mampu mengalahkan Al Baqillani. Maka sang raja memutuskan untuk memanggil Paus tertinggi agama mereka.

Sang Paus datang. Melihat kedatangannya, Al Baqillani terlihat sangat gembira, mengagungkannya, dan menyambutnya.

Al Baqillani berkata, “Apak kabar tuan? Apa kabar istri tuan? Apa kabar anak-anak tuan?”

Semua yang hadir terheran-heran dengan sambutan itu.

Sang raja berkata: “Hei...tidak tahukah kamu kalau ini Paus yang suci dari semua itu (tidak menikah dan tidak punya anak)?”

Al Baqillani menghantam mereka semua,

“KALIAN SUCIKAN PAUS KALIAN DARI ISTRI DAN ANAK, SEMENTARA KALIAN TIDAK MENYUCIKAN TUHAN SEMESTA ALAM DARI ISTRI DAN ANAK?!”

Paus yang mendengar langsung berkata kepada raja,

“Segera beri dia hadiah dan keluarkan dari negeri ini!”

(Kebenaran Islam itu, malamnya saja seperti siang...)

sumber : http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/guru-parenting-nabawiyah/261-al-baqillani-vs-paus