Kamis, 29 Desember 2016

Kisah Al Baqillani vs Paus


(Serial Sapa Pagi Budi Ashari)

Al Baqillani –rahimahullah- salah seorang ulama Malikiyyah yang sangat cerdas. Berasal dari Irak. Ahli dalam berbagai ilmu dan dengan kemampuan dialog seorang filsuf.

Suatu hari khalifah muslimin mendapatkan surat dari raja Romawi. Raja Romawi meminta agar dikirimkan orang paling berilmu di kalangan muslimin. Khalifah segera bertanya di majlis kekhilafahan, tentang siapa orang yang layak untuk berdialog dan menjawab semua pertanyaan orang sekelas raja Romawi.

Salah seorang di majlis itu mengusulkan nama seorang anak muda yang bernama Abu Thayyib Al Baqillani. Khalifah pun mengutusnya.

Begitu Al Baqillani sampai di Romawi dia menghadap ke istana raja. Sang raja merencanakan sejak awal pertemuannya untuk menjatuhkan utusan muslimin ini. Maka sang raja duduk di singgasananya. Persis di hadapan singgasana raja ada pintu besar yang akan digunakan untuk Al Baqillani. Dalam pintu besar itu ada pintu kecilnya. Pintu besarnya ditutup dan yang dibuka adalah pintu kecilnya. Sehingga yang akan memasukinya pasti akan menundukkan kepalanya. Dan di hadapannya langsung raja nasrani.

Al Baqillani yang mengetahui hal tersebut, jiwanya tidak menerima diperlakukan dengan cara itu. Harus menunduk di hadapan raja nasrani (Subhanallah...IZZAH ayyuhal muslimun!!!). Maka Al Baqillani pun masuk dengan pantatnya terlebih dahulu.

Majlis pun dimulai oleh sang raja, “Saya dengar menurut agama kalian, bulan pernah terbelah untuk Rasul kalian?”

Al Baqillani menjawab, “Benar!”

Raja, “Apakah kalian punya hubungan khusus dengan bulan, sehingga bulan hanya terbelah untuk kalian tapi tidak terjadi pada umat sebelum kalian?”

Al Baqillani menjawab, “Bagaimana dengan Al Maidah (hidangan makanan) yang turun dari langit untuk Isa, apakah kalian juga punya hubungan khusus dengannya sehingga tidak diketahui oleh masyarakat manapun, kecuali kalian?”

Beberapa permasalahan dibahas dalam sidang itu. Tidak ada satupun ahli ilmu di sidang raja yang mampu mengalahkan Al Baqillani. Maka sang raja memutuskan untuk memanggil Paus tertinggi agama mereka.

Sang Paus datang. Melihat kedatangannya, Al Baqillani terlihat sangat gembira, mengagungkannya, dan menyambutnya.

Al Baqillani berkata, “Apak kabar tuan? Apa kabar istri tuan? Apa kabar anak-anak tuan?”

Semua yang hadir terheran-heran dengan sambutan itu.

Sang raja berkata: “Hei...tidak tahukah kamu kalau ini Paus yang suci dari semua itu (tidak menikah dan tidak punya anak)?”

Al Baqillani menghantam mereka semua,

“KALIAN SUCIKAN PAUS KALIAN DARI ISTRI DAN ANAK, SEMENTARA KALIAN TIDAK MENYUCIKAN TUHAN SEMESTA ALAM DARI ISTRI DAN ANAK?!”

Paus yang mendengar langsung berkata kepada raja,

“Segera beri dia hadiah dan keluarkan dari negeri ini!”

(Kebenaran Islam itu, malamnya saja seperti siang...)

sumber : http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/guru-parenting-nabawiyah/261-al-baqillani-vs-paus

Jumat, 23 Desember 2016

Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”


Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016



KHUTBAH PERTAMA:


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.

Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.

Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.

Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…

Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.

Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,


“رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”
“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]

Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?

Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?

Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”

Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”

Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”

Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”

Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.

Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”

“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.

Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.

Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.

Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.

Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?

Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.

Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.

Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.


“قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”
Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.

Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.

Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.


“قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”
Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.

Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?

Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.

Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,


“سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.
“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.



 KHUTBAH KEDUA:


 الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.
Sidang Jum’at yang kami hormati…

Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah  membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,


“اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”
“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.

Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.

Pertama: perasaan cinta kepada Allah

Kedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai Allah

Ketiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan Allah

Poin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.


هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016

[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).

sumber : http://tunasilmu.com/khotbah-jumat-ridha-siapa-yang-dicari/

Kamis, 22 Desember 2016

Kisah Perjalanan Mencari Kebenaran Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu


Judul Asli: A Search for The Truth, by a man known as Salman the Persian
Penulis: Dr. Saleh as-Saleh
File : 18 hal pdf

Kisah perjalanan Salman al-Farisi sangat menarik untuk disimak, menyimpan banyak pelajaran berharga bagaimana seharusnya sikap seseorang yang menuntut ilmu, seseorang yang mencari kebenaran. Karena kesungguhan dan kebulatan tekatnya, serta keikhlasannya dalam mencari al-Haq, Allah memudahkan baginya petunjuk, sehingga dapat berkumpul bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menjadi salah seorang sahabat beliau.

Oleh penulis, buku ini ditujukan bagi orang-orang yang ingin mencari kebenaran, dari kalangan manapun. Jika Salman al-Farisi telah melalui perjalanan panajang tanpa mengenal lelah untuk mencarinya, maka siapapun yang hendak mencari kebenaran akan melaluinya dalam waktu yang lebih singkat, dengan cara mengambil manfaat dari kisah Salman al-Farisi

Download atau Baca : https://drive.google.com/open?id=0B6CMYtsAx4MZMUg0eWtsUXMwaXM

Semoga bermanfaat!

sumber : http://www.raudhatulmuhibbin.org/2009/03/perjalanan-mencari-kebenaran.html

Doa Dipagi Hari - Ustadz Abdullah Zaen, MA.


Berikut video kajian yang berjudul Doa Dipagi Hari oleh Ustadz Abdullah Zaen, MA. 
Sumber Youtube Yufid.tv


Apa Itu Wahabi ?


Kajian Apa Itu Wahabi, oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA.

Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3

sumber : https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Ali%20Musri/Apa%20Itu%20Wahabi

Rabu, 21 Desember 2016

Maksiat dan Ibadah


Wuhaib bin Al Ward rahimahullah pernah ditanya :

أَيَجِدُ طَعَمَ الْعِبَادَةَ مَنْ يَعْصِي اللَّهَ ؟

"Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah bisa merasakan lezatnya ibadah?

Beliau menjawab:

" لا وَلا مَنْ هَمَّ بِمَعْصِيَةٍ " .

"Tidak, bahkan orang yang sekedar punya niat bermaksiat juga tidak bisa merasakannya."
________
Hilyatul Auliyaa, li Abi Nu'aim

Kiat Merasa Lezat Membaca Ayat Al Quran


Sobat, bisa jadi anda senasib dengan saya, betapa sering membaca Al Qur'an namun ayat ayat yang anda baca terasa hampa dan hambar. Seakan semuanya hanya berlalu di lisan, sedangkan jiwa atau hati tetap saja tertutup bahkan sekedar terketuk saja tidak.

Mengkhatamkan Al Qur'an berkali-kali, namun tetap saja iman tidak bertambah, amal tetap malas, dan akhlaq tetap saja buruk.

Padahal setiap orang yang benar benar beriman, setiap kali dibacakan atau membaca Al Qur'an, jiwa mereka terguncang, hati mereka bergetar, dan semangat mereka untuk beramal berkobar-kobar. Allah Taala berfirman:
إِِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (Al Anfaal 2)

Anda menyadari bahwa saat ini diri atau tepatnya jiwa anda sedang sakit? Anda mau obatnya?

Mudah kok, dan tentu saja murah, obatnya ada pada ayat ketiga dan keempat dari surat Al Anfaal:
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ 
(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.(Al Anfaal 3-4)

Dan untuk menyempurnakan kesembuhan jiwa anda, maka setiap kali anda membaca ayat Al Qur'an, ajak jiwa anda untuk ikut membaca, bukan hanya lisan anda. Hadirkan jiwa anda, pusatkan pikiran anda pada ayat ayat yang anda baca, apalagi bila anda memahami artinya, maka camkan dan renungkan maknanya, niscaya iman segera merasuk ke dalam jiwa anda dan semangat beramalpun berkobar. Karena ketahuilah bahwa hanya orang-orang yang demikian itu yang dapat mengambil peringatan dari Al Qur'an: Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ 
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qaaf 37)

Selamat mencoba, semoga bertambah iman dan bertambah semangat anda untuk beramal lillah Azza wa Jalla.

sumber : FB Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA.

Jumat, 16 Desember 2016

Batu Ajaib di Zaman Nabi Musa


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu Bani Isra’il biasa mandi dalam keadaan telanjang sehingga mereka pun bisa melihat aurat temannya satu sama lain. Adapun Musa ‘alaihis salam mandi dalam keadaan sendiri. Maka mereka pun berkomentar, ‘Demi Allah, tidak ada yang mencegah Musa untuk mandi bersama-sama dengan kita melainkan pasti karena kemaluannya bengkak (mengidap kelainan).’” Nabi menceritakan, “Maka suatu saat Musa berangkat untuk mandi, lalu dia letakkan pakaiannya di atas sebongkah batu. Tiba-tiba batu itu berlari membawa pergi bajunya.” Nabi berkata, “Maka Musa pun mengejar larinya batu itu seraya berteriak, ‘Hai batu, kembalikan pakaianku! Hai batu, kembalikan pakaianku!’. Sampai akhirnya Bani Isra’il bisa melihat aurat Musa kemudian mereka berkomentar, ‘Demi Allah, ternyata tidak ada -kelainan- apa-apa pada diri Musa’. Maka berhentilah batu itu sampai orang-orang memandanginya.” Nabi berkata, “Kemudian Musa pun mengambil pakaiannya dan mendaratkan pukulan -tongkat-nya kepada batu tersebut.” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, di atas batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan -tongkat- Musa.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [3/146])

Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya:

1. Bolehnya mandi dalam keadaan telanjang bulat apabila sedang bersendirian (sepi) dan tidak terlihat orang lain, namun menutup diri itu lebih utama (lihat judul bab hadits ini dalam Syarh Muslim [3/146], lihat juga Shahih Bukhari, Kitab al-Ghusl, hal. 72).

2. Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan Nabi Musa ‘alaihis salam yang memiliki sifat pemalu (lihat Shahih Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, hal. 715).

3. Hadits ini menunjukkan keutamaan sifat malu. Bahkan, rasa malu itu termasuk cabang keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang, sedangkan rasa malu adalah salah satu cabang penting keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lihat Syarh Muslim [2/87]).

4. Malu adalah akhlak para Nabi.

5. Larangan menyakiti para Nabi (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, hal. 1012).

6. Wajibnya membenarkan berita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskpun tampaknya tidak bisa diterima oleh akal manusia.

7. Hadits ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah ta’ala, sehingga Allah bisa membuat batu -benda mati- bisa berlari, meskipun ia tidak punya kaki.

8. Perintah menutup aurat dan larangan mempertontonkannya di hadapan khalayak.

9. Tercelanya menyebarkan kabar burung yang tidak jelas kebenarannya (qila wa qola).

10. Wajibnya mengecek berita (tatsabbut) untuk membuktikan kebenarannya, terlebih lagi jika isinya mengandung kesan negatif (celaan) pada diri orang-orang yang terhormat semacam ulama ataupun umara’.

11. Islam merupakan agama yang sempurna dan menjunjung tinggi akhlak mulia, sehingga etika mandi pun diajarkan supaya kehormatan diri manusia terjaga.

12. Islam mengajarkan kebersihan.

13. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya untuk menyingkap kerancuan pemahaman yang ada di tengah-tengah masyarakat.

14. Terkadang orang menyangka bahwa suatu musibah yang menimpanya merupakan keburukan baginya, namun sebenarnya ada hikmah yang agung di balik itu semua yang manfaatnya kembali kepada orang itu sendiri.

15. Bersumpah dengan menyebut nama Allah, bukan dengan nama makhluk.

16. Tawakal harus disertai dengan melakukan sebab, tidak cukup hanya bersandar kepada Allah.

17. Boleh membalas kejahatan dengan kekerasan dengan melihat ukuran kejahatannya.

Penulis: Ustadz Abu Mushlih
Artikel www.KisahMuslim.com

Terbunuhnya Sang Ayah Di Perang Badar


Peperangan yang tidak seimbang, kaum muslimin berjumlah 314 sementara kuffar Quraisy 950 pasukan. Dalam perang Badar, tersebutlah seorang sahabat bernama Abu Ubaidah yang berperang penuh keberanian, beliau menerjang musuh, orang-orang kufar Quraisy segan berhadapan bahkan mereka takut menghadapi pejuang ini, karena Abu Ubaidah berperang tidak ada rasa takut untuk mati. Tatkala perang berkecamuk, tiba-tiba ada diantara tentara Quraisy yang berusaha menghadang Abu Ubaidah, beliaupun menghindar dari hadangan tentara tersebut dan berusaha menjauh, tetapi upaya tersebut tidak mendapatkan hasil, tentara Quraisy tersebut senantiasa mengikuti kemana Abu Ubaidah pergi bahkan menghadangnya penuh dengan berani. Diwaktu dimana Abu Ubaidah dalam keadaan sempit dan susah untuk menghindar maka Abu Ubaidah mengayunkan pedangnya dan menebas orang tersebut, tersungkurlah tentara Quraisy itu. Ternyata tentara itu adalah Abdullah bin Jarrah, ayah Abu Ubaidah.

Beliau tidak membunuh ayahnya, yang beliau bunuh adalah kesyirikan yang ada pada pribadi ayahnya, yang dengannya Allah menurunkan wahyu-Nya,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat- Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang berperawakan tinggi, kurus dan berwajah tampan. Orang yang melihatnya akan merasa senang dan membuat jiwa tenang dan ingin selalu berjumpa dengannya. Beliau sangat tawadhu, pemalu, tetapi jika keadaan harus memaksa beliau untuk bertindak dan berbuat, maka ia bergegas melakukan bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya.

Abu Ubaidah bernama Amir bin Abdillah bin Jarrah Al-Qurasy dan memiliki kunyah Abu Ubaidah.

Abdullah bin Umar bin Khaththab berkata, “Tiga orang yang merupakan pemuka orang Quraisy dan sangat dihormati akhlak mereka, mulia, pemalu, jika mereka berbicara kepada kalian tidak akan berdusta, jika kalian berbicara dengan mereka, merekapun tidak mendustakan kalian. Mereka adalah Abu Bakar as Siddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Menurut tarikh, Abu Ubaidah termasuk orang yang pertama masuk dalam agama islam. Beliau masuk Islam setelah mendapat ajakan Abu Bakar As Siddiq, sehari setelah Abu Bakar menyatakan keislamannya. Setelah itu berturut-turut diikuti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mad’uun dan Al Arqam bin Abi al Arqam. Mereka semua masuk Islam di hadapan Rasulullah dan mengumumkan keislaman mereka dan merekalah tonggak dan pilar umat ini.

Suatu ketika datanglah utusan dari orang-orang Nasrani kepada Rasulullah. Merekapun berkata, “Wahai abul Qasim(panggilan untuk Rasulullah), utuslah kepada kami seorang laki-laki dari sahabatmu, yang engkau ridhai untuk menjadi hakim dan penengah diantara kami dalam suatu urusan yang kami miliki dari harta kami yang kita berselisih didalamnya, karena kaum muslimin dihadapan kami sangat terhormat dan kami ridha dengan kalian. ”Maka Rasulullah bersabda, ‘Datanglah nanti sore, niscaya aku akan kirim orang yang kuat dan terpercaya.’ Umar berkata, “Maka aku datang untuk shalat dhuhur di awal waktu dan aku tidak berharap untuk memperoleh jabatan sebagai pemimpin kecuali waktu itu, dan harapanku adalah orang yang di pilih Rasul adalah aku, sesudah sholat dhuhur, maka baginda Nabi menoleh ke kanan dan ke kiri, maka akupun berusaha menampakkan diriku sehingga baginda Nabi melihatku. Nabi kembali menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian beliau melihat Abu Ubaidah dan memanggilnya dan berkata, ’Pergilah bersama mereka(orang-orang Nasrani) dan jadilah penengah diantara mereka, hakimilah apa yang mereka perselisihkan dengan adil’, maka aku(Umar) berkata,’’Abu Ubaidahlah yang telah meraihnya.”

Sesudah Rasulullah wafat, maka Umar berkata kepada Abu Ubaidah, ”Bentangkanlah tanganmu wahai Abu Ubaidah karena aku mendengar Nabi bersabda, ’Tiap umat memiliki orang yang dipercaya dan sesungguhnya orang yang terpercaya untuk umat ini adalah Abu Ubaidah.’ Maka beliau menjawab, ‘Aku tidak akan maju dan didepanku ada orang yang diperintah Rasulullah untuk menjadi imam shalat dan kami akan mempercayakannya sampai wafat.” Kemudian Abu Bakar dibaiat dan kaum muslimin pun sepakat untuk membaiatnya.
Menjelang wafat, Abu Ubaidah berwasiat kepada tentaranya dan waktu itu beliau berada di negeri Syam. “Sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian, dan kalian akan semakin baik selama kalian memeganginya yaitu dirikanlah shalat, berpuasalah Ramadhan, bersedekahlah, berhajilah dan berumrahlah, dan lakukanlah saling memberi nasihat, nasihatilah pemimpin kalian dan janganlah kalian curangi mereka dan janganlah kalian mencampakkan dalam kebinasaan karena dunia…”

Tidak lama sesudah beliau memberi nasihat, ajalpun menyongsongnya, semoga Allah meridhainya dan meridhai kita semua. Amiin, ya Rabbal alamin..

Sumber: Majalah Al-‘Ibar, Edisi VI
Artikel www.KisahMuslim.com